Keberadaan AI bisa menjadi angin segar bagi para penipu dan badai besar bagi banyak orang. Sekarang penipuan berbasis AI menjadi ancaman nyata yang bisa menyasar kepada siapa saja. Baik itu individu dengan usia lanjut, senior expert, profesional muda, anak sekolah, masyarakat umum, bahkan perusahaan yang sudah terkenal akan kredibilitasnya.
Dulu segala bentuk penipuan di dunia digital sangat mudah terdeteksi dari penggunaan bahasa yang berantakan, kontak pengirim yang tidak resmi, foto atau video pendukung yang berkualitas rendah, bahkan suara palsu yang dibuat-buat secara manual oleh penipu. Sekarang, kemajuan kecerdasan buatan (AI) mengubah standar tersebut. Pola-pola yang berantakan bukan lagi menjadi parameter dari sebuah penipuan. Hal ini terjadi bukan karena peningkatan kualitas penipu, tetapi teknologi yang semakin mendukung setiap kejahatan mereka.
Penipuan dengan menggunakan AI ini menjadi ancaman bagi berbagai lapisan masyarakat. Mulai dari orang yang sudah lanjut usia, orang yang sudah expert di bidang tertentu, profesional muda, anak sekolah, perusahaan berkredibilitas, dan masyarakat umum lainnya. Terlebih lagi bagi beberapa orang yang mudah percaya atas kesempurnaan dari sebuah informasi di dunia digital. Masalahnya sekarang kesempurnaan justru dimanfaatkan oleh penipu untuk meningkatkan kepercayaan dan membangun kredibilitas dari setiap informasi yang dibagikan. Untuk memahami lebih dalam, berikut adalah empat jenis penipuan berbasis AI yang menjebak berbagai lapisan masyarakat.
Penipuan kloning suara AI (AI voice cloning fraud)
Suara manusia sekarang bisa ditiru oleh AI dan kecanggihan ini dimanfaatkan oleh para penjahat di dunia digital sebagai bahan penipuan. Mekanisme dari penipuan ini, yakni dimulai dengan pengambilan sampel-sampel suara target yang tersebar di berbagai media. Baik itu dari YouTube, TikTok, Instagram, WhatsApp yang bisa berbentuk video, voice note, bahkan panggilan telepon. Berbagai sampel suara tersebut akan diolah untuk mempelajari karakteristik unik suara tersebut termasuk pitch, tone, accent, cadence, dan speaking style. (Rachmat, 2026). Selanjutnya, hasil akhir akan ditiru dan digunakan untuk melakukan kejahatan berdasarkan suara tersebut agar meyakinkan korban.
Kejahatan yang dilakukan bisa berbagai macam, misalnya panggilan telepon palsu dengan menggunakan orang terdekat korban atau sosok terkenal untuk meminta transfer uang. Contoh nyata dari penipuan ini bahkan sudah membentuk variasi baru bernama “grandparent call”. Jenis penipuan ini sering menjadi pembahasan di berbagai kanal media. Penipu memposisikan diri sebagai cucu dengan mengkloning suara lalu memanfaatkan emosi dari target yang merupakan kakek dan nenek. Biasanya penipu memberitahu kondisi darurat yang dialami dan meminta uang kepada target. Target pun menurutinya karena merasa itu adalah cucu mereka. Jenis penipuan berbasis suara ini memang seringkali menyasar orang-orang dengan memanfaatkan rasa iba dan perasaan. Itulah mengapa, sangat penting untuk berpikir secara logis sebelum bertindak lebih jauh.
Penipuan panggilan video AI (AI deepfake video call fraud)
Bentuk penipuan lainnya masih satu jenis dengan kloning suara. Hanya saja penipuan video AI ini menambah sisi visualnya agar lebih meyakinkan target. Selain mengkloning suara, penipuan ini juga meniru bentuk wajah, ekspresi, bahkan detail-detail kecil pada wajah seseorang. Hal ini dilakukan agar bisa menciptakan sebuah video dengan suara dan visual yang nyata untuk mempersuasi korban agar melakukan sesuatu sesuai dengan permintaannya.
Penipuan berbasis video ini sudah menjerat korban di dunia nyata dan menyita banyak kerugian finansial. Orang dengan berbagai latar belakang menjadi sasaran empuk penipu. Bahkan, seseorang yang sudah lama berkecimpung di dunia professional dengan latar belakang pendidikan tinggi pun bisa menjadi korban. Kenyataan ini dibuktikan oleh kasus nyata seorang staff keuangan yang mengirimkan uang setelah melakukan panggilan video dengan CFO di perusahaannya. Padahal panggilan video tersebut hanyalah hasil tiruan yang dibuat oleh AI. Pada penipuan ini, penipu tidak lagi memanfaatkan emosi korban, tetapi fakta nyata berupa visual dari orang yang korban percaya.
Penipuan endorsement selebritas atau tokoh terkenal
Adanya kejahatan berbasis AI menggeser stigma kebenaran dalam setiap konten promosi yang tersebar di media sosial. Para penipu seringkali menyebarkan video endorsement palsu dengan membawa nama serta visual selebritas atau tokoh terkenal. Tujuan bermacam-macam, mulai dari keisengan semata maupun tujuan promosi terselubung untuk membuat publik percaya serta membeli produk tersebut. Mekanisme dari penipuan ini, yakni dengan mengkloning suara, visual, gerak tubuh, dan segala hal yang mendukung pembuatan video palsu dari seorang tokoh terkenal.
Kasus nyata dari penipuan ini pernah terjadi dengan memanfaatkan penyanyi populer Taylor Swift yang mempromosikan alat-alat masak. Padahal Taylor Swift tidak pernah berafiliasi atau bekerjasama dengan produk tersebut. Pada awalnya, kejadian ini mungkin tidak memberikan dampak negatif secara langsung karena produk yang dipromosikan adalah alat masak. Namun, seiring berjalannya waktu juga terdapat skenario terburuk, khususnya jika produk tersebut hanya produk tipuan atau menciptakan kerugian tertentu. Sebagai pengguna internet, banyak orang perlu mewaspadai hal ini agar tidak mudah percaya pada konten promosi yang diciptakan oleh akun tidak resmi.
Penipuan pesan terpersonalisasi dan disinformasi berita di media
Jika sebelumnya banyak target dari penipu yang tidak percaya pada informasi umum, maka saat ini banyak penipu yang mulai memanfaatkan pesan terpersonalisasi. Informasi pribadi mulai dimanfaatkan agar membangun kredibilitas dan mempersuasi target agar mudah percaya. Penipuan ini bernama spear phising, jenis serangan yang ditujukan kepada individu, kelompok, atau organisasi tertentu secara spesifik. Penipu melakukan riset mendalam mengenai kehidupan pribadi dan professional para targetnya, lalu menggunakan informasi tersebut untuk membuat pesan-pesan personal yang meyakinkan (IBM, 2026). Bisanya penipu menyasar perusahaan ternama secara profesional maupun memposisikan diri sebagai profesional dari suatu perusahaan. Contoh kasus nyatanya baru terjadi pada tahun 2024, penipu melakukan pengiriman pesan tawaran pekerjaan terpersonalisasi yang meminta korban mengunduh file-file berbahaya.
Selain spear phising, jenis penipuan berbasis AI juga digunakan untuk menyebarkan berita hoaks (disinformasi) di media sosial. Tujuan dari penipu melakukan ini tidak jauh-jauh dari keinginan untuk menarik atensi, meningkatkan engagement, memengaruhi publik, serta alasan tersembunyi lainnya. Contoh nyata dari kasus ini, yakni munculnya berita berupa foto yang memperlihatkan bahwa tempat hiburan bernama DIsneyLand sedang dilanda banjir. Padahal berita tersebut tidaklah benar. Keberadaan penipuan berbasis AI dengan memanfaatkan media sosial masih menjadi ancaman nyata yang perlu diatasi bersama.
Sebenarnya, masih banyak jenis penipuan berbasis AI dengan berbagai macam bentuk lainnya. Hanya saja beberapa masih belum terungkap, belum diangkat menjadi berita, bahkan belum diidentifikasi mekanisme. Sebagai pengguna digital yang cerdas dan bijak, setidaknya perlu lebih mengedukasi diri agar tidak terjebak oleh penipuan berbasis AI ini. Coba gunakan framework SVAE agar tidak mudah terjebak oleh penipu. SVAE merupakan singkatan dari Stop, Verify, Act, dan Educate others.
Langkah pertama, stop, berarti berhenti terlebih dahulu jika menerima panggilan, pesan, atau postingan yang mencurigakan. Berikan waktu kepada diri sendiri untuk berpikir jernih tanpa melibatkan emosi saat melihatnya. Langkah kedua, verify, verifikasi ini dilakukan untuk memastikan kebenaran dari suatu hal yang kamu terima, perbanyak bacaan untuk memperkaya riset atau tanyakan kepada orang-orang yang paham dengan hal tersebut.
Langkah ketiga, act, setelah kamu sudah yakin bahwa itu adalah penipuan, kamu bisa langsung melaporkan kepada pihak berwajib jika memungkinkan agar tidak menyasar korban lain. Langkah terakhir, educate others, jadikan pengalamanmu sebagai bahan edukasi untuk orang lain, kamu bisa membagikan informasi bentuk penipuan tersebut kepada orang-orang terdekatmu terlebih dahulu. Alangkah lebih baik apabila kamu memiliki keberanian yang besar, kamu juga bisa membagikannya di media sosial. Kamu sudah berhasil menyelamatkan dirimu, jadi langkah selanjutnya adalah membuat orang lain menyelamatkan dirinya sendiri.
Referensi
Rachmat, Dadang. 2026. Kebijakan Hukum terhadap Fenomena AI Voice Cloning di Indonesia. Jurnal Berajah. Vol.6 / No.2. Hal 761-769. https://ojs.berajah.com/index.php/go/
Lappiere, Matthew. 2025. “Grandparent Scams Steal Millions from Seniors. Organized Crime Made Montreal A Hotbed for Them”. Diakses pada 22 Juni 2026. https://www.cbc.ca/news/canada/montreal/montreal-grandparent-scams-1.7485798
Magramo, Kathelen. 2024. “Finance Worker Pays Out $25 Million After Video Call with Deepfake Chief Financial Officer”. Diakses pada 22 Juni 2026. https://edition.cnn.com/2024/02/04/asia/deepfake-cfo-scam-hong-kong-intl-hnk/index.html
McAfee (x.com). 2024. https://x.com/McAfee/status/1745226438641602866
IBM. 2026. “Spear Phishing”. Diakses pada 22 Juni 2026. https://www.ibm.com/think/topics/spear-phishing
Lakshamanan, Ravie. 2024. “Fake Job Applications Deliver Dangerous more-Egg Malware to HR Professional”. Diakses pada 22 Juni 2026. https://thehackernews.com/2024/10/fake-job-applications-deliver-dangerous.html
Bagikan artikel ini
