Tidak ada salahnya mencari informasi penyakit di internet jika kamu merasakan gejala tertentu. Namun, akan menjadi masalah jika pencarian itu justru menciptakan kecemasan tanpa henti sampai menganggu keseharianmu.
Apa yang kamu lakukan jika merasakan sakit kepala selama beberapa hari? Apakah kamu langsung memeriksanya ke dokter atau sibuk berselancar di mesin pencarian untuk mengetahui diagnosa penyakit tertentu? Sebenarnya tidak apa-apa untuk mencari tahu lebih awal, tetapi akan memperparah keadaan jika kamu melakukan hal tersebut secara berulang tanpa henti. Bukannya mengatasi masalah, justru memperparah skenario buruk. Hal ini dikarenakan saat mencari tahu gejala di internet seketika langsung muncul berbagai dugaan penyakit parah. Mulai dari meningitis, tumor otak, dan lain sebagainya. Belum selesai pada satu diagnosa, muncul lagi diagnosa yang lain. Kamu pun perlahan menjadi self diagnose dan panik sendiri tentang dampak buruk yang belum tentu terjadi. Memang betul bahwa gejala yang terasa kecil tidak boleh disepelekan. Namun, arti dari “tidak disepelekan’ ini bukan berarti memperbesar masalah dengan menduga-duga penyakit tertentu hanya bermodalkan “membaca di internet”. Bentuk dari fenomena ini memiliki nama, yakni cyberchondria. Dilansir dari BRPKM, cyberchondria adalah pencarian berlebihan atau berulang tentang informasi kesehatan di internet yang mengakibatkan tekanan atau kecemasan. Istilah ini berasal dari kata “cyber” dan “hypochondriasis”, kata “hypochondriasis” merujuk pada fenomena ketakutan berlebih pada suatu gejala penyakit, lalu kata “cyber” di awal ditambahkan karena berhubungan dengan dunia digital modern yang berkembang. Itulah mengapa keduanya digabung membentuk istilah baru untuk menyesuaikan zaman.
Hal yang membedakan cyberchondria dengan mencari informasi biasa untuk meningkatkan kesadaran akan kesehatan terletak pada pola yang muncul. Cyberchondria memiliki ciri, yakni melakukan pencarian berlebihan dan berulang terhadap banyak kemungkinan penyakit dari gejala yang kamu alami. Kamu mudah percaya juga terhadap setiap informasi yang ada di sana. Kecemasan pun semakin meningkat sampai kamu susah untuk tertidur atau bahkan beraktivitas seperti biasa. Tidak jarang justru tubuh terasa semakin lemas, pusing, dan memunculkan gejala lain yang muncul karena kekhawatiran tadi. Bahkan jika sudah periksa ke dokter, seorang dengan cyberchondria ini sampai tidak mempercayai diagnosa dari dokter karena tidak sesuai dengan informasi yang diselami sebelumnya dari internet.
Fenomena cyberchondria ini seringkali berkaitan dengan adiksi gawai yang menyasar pada usia remaja sampai dewasa karena tingginya rasa penasaran terhadap sesuatu. Ditambah lagi usia ini masih dalam fase perkembangan diri yang krusial sehingga lebih rentan merasakan dampak dari cyberchondria ini (Bahadir, 2024). Tingginya retensi pada internet juga menjadi faktor penyebab munculnya fenomena ini. Data dari Good Stats pun membuktikan bahwa Generasi Milennial (90,34%) dan Generasi Z (89,02%) yang mendominasi sebagai pengguna internet paling aktif.
Adapun cara untuk menghapus siklus ini secara perlahan agar tidak terus terjebak di dalam kecemasan tanpa henti. Pertama, tidak ada salahnya mencari informasi terkait kesehatan atau gejala di internet. Namun, tetap pada batasan waktu dan pencarian agar mengurangi potensi berpikir berlebihan pada suatu gejala yang belum pasti. Kamu dapat menerapkan ini dengan memasang waktu spesifik untuk pencarian informasi misalnya maksimal 10 menit atau maksimal lima artikel yang dibaa. Batasan waktu dan jumlah bacaan ini akan membuatmu lebih stabil dalam menerima informasi. Selain itu untuk memasang batasanya ini, kamu perlu belajar menyadari bahwa menemukan banyak informasi tidak sama dengan menemukan kepastian yang lebih besar. Semakin kamu terus mencari informasi untuk menjawab perasaan tidak pasti, kamu akan terus mengisi bahan bakar untuk rasa cemas yang lebih besar.
Cara kedua, selain memberikan batasan dan meningkakan kesadaran, kamu juga perlu memilah informasi kredibel di internet. Sebelum membaca sesuatu, pastikan sumber tersebut kredibel dan resmi sehingga isinya dapat dipertanggungjawabkan. Pastikan juga bahwa informasi yang ada di sana memiliki rujukan pasti, misalnya dari penelitian beberapa dokter dengan spesialisasi penyakit tertentu. Tipe bacaan seperti ini dapat kamu temukan dalam jurnal-jurnal yang memang sudah melalui tahap kurasi. Dengan pemilahan ini, kamu bisa lebih berhati-hati juga sebelum memahami suatu gejala penyakit tertentu.
Cara ketiga, kamu bisa langsung pergi ke dokter untuk menanyakan gejala penyakit tertentu tanpa mencari tahu apa-apa di internet terlebih dahulu. Cara terakhir ini menjadi cara paling cepat untuk langsung mengetahui penyakit yang kamu rasakan tanpa harus khawatir berlebihan karena mencari tahu sendiri di internet. Lakukan jadwal pertemuan dengan dokter yang sesuai dan ceritakan semua gejalamu secara detail. Namun, apabila siklus cyberchondria susah dihapuskan, terus berulang dan masih terus mengganggu aktivitasmu, tidak ada salahnya untuk menerapkan psikoedukasi. Dengan melibatkan penjelasan profesional, kamu akan dibimbing untuk mengatasi permasalahan ini. Sebenarnya, perlu ditekankan lagi bahwa tidak ada salahnya mencari informasi di internet tentang gejala penyakit dirasakan sebelum pergi ke dokter. Namun, yang menjadi masalah apabila pencarian itu dilakukan tanpa henti. Bukannya menjawab satu pertanyaan yang kamu ajukan, justru menciptakan pertanyaan lain yang lebih menakutkan. Untuk itu, jangan biarkan internet mendiagnosa penyakitmu sampai ketakutan justru membuatmu lebih lama sembuh.
Share this article

