Orang tua kita mengajari bagaimana menjalani kehidupan di dunia nyata ketika kita kecil. Tapi di era digital, kita harus mengetahui bagaimana menjaga diri di internet.
Masih ingat ketika kita masih duduk di bangku TK dan SD? Orang tua kita benar-benar menjaga kita. Mulai dari menyiapkan sarapan, bekal, buku, tas, hingga sepatu. Kita tinggal mengambil semuanya lalu berangkat ke sekolah. Bahkan, tidak sedikit orang tua yang mengantar sampai ke depan gerbang sekolah. Mereka memastikan kita benar-benar sampai dan masuk ke kelas.
Namun, mungkin tidak semua orang mengalami hal yang sama. Ada juga orang tua yang sejak awal memberikan ruang agar anak belajar mandiri dan terbiasa mengambil keputusan sendiri.
Mandiri memang penting. Tapi apakah mandiri berarti harus menghadapi dunia digital sendirian?
Ketika sudah berada di rumah, kita mulai diberikan waktu untuk menggunakan gadget. Kita boleh menonton YouTube, bermain game, atau membuka media sosial. Biasanya orang tua hanya mengingatkan agar kita tidak bermain terlalu lama. Namun, apakah mereka selalu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi ketika kita sedang berselancar di internet?
Di dunia nyata, orang tua relatif lebih mudah melihat bahaya yang mungkin kita hadapi. Mereka dapat mengingatkan kita ketika hendak menyeberang jalan, menjauhkan kita dari tempat yang berbahaya, atau memperingatkan ketika ada orang asing yang mencurigakan.
Namun, ketika kita berada di kamar sambil memegang gadget, situasinya terlihat jauh lebih aman. “Hanya bermain HP sebentar di kamar.” Kita tidak pergi ke mana-mana dan tidak bertemu langsung dengan orang asing.
Padahal, ketika memegang gadget, seorang anak juga sedang memasuki ruang digital yang sangat luas. UNICEF mencatat bahwa sebagian besar anak di Indonesia menggunakan internet setiap hari, terutama untuk bersosialisasi dan menikmati hiburan. Di saat yang sama, mereka juga dapat menghadapi berbagai resiko, mulai dari konten yang tidak pantas hingga perundungan dan eksploitasi daring.
Kita tentu menikmati waktu menggunakan gadget sepulang sekolah. Setelah lelah menjalani kegiatan di sekolah, memegang gadget seperti menjadi kesempatan untuk mengisi kembali energi. Ada daya tarik tertentu yang membuat kita betah menonton YouTube Shorts, ada kepuasan ketika memenangkan permainan, dan ada keseruan saat berinteraksi di media sosial. Semua itu membuat kita merasa seolah-olah kita yang menguasai internet, padahal tanpa disadari kita juga sedang dipengaruhi oleh apa yang muncul di layar.
Pernahkah kita bertanya, mengapa setelah menonton satu video pendek kita justru ingin melihat video berikutnya? Atau ketika bermain game dengan niat hanya sebentar, tiba-tiba waktu sudah berlalu dua jam?
Mungkin kita merasa semua itu sepenuhnya merupakan pilihan sendiri. Kita yang memilih video, memainkan game, dan membuka media sosial. Namun, pengalaman kita di platform digital tidak sepenuhnya terjadi secara acak.
Sistem rekomendasi dapat menggunakan berbagai sinyal dari aktivitas pengguna, seperti riwayat tontonan, pencarian, interaksi, hingga konten yang disukai, untuk menentukan konten yang dianggap relevan. YouTube, misalnya, menjelaskan bahwa sistem rekomendasinya menggunakan kebiasaan menonton dan berbagi sinyal pengguna untuk mempersonalisasi rekomendasi yang muncul.
Lalu, apa sebenarnya yang dapat mempengaruhi kita selain video yang kita tonton?
Jawabannya adalah informasi.
Ketika pesan yang sama terus muncul melalui video pendek, media sosial, maupun platform lainnya, kita dapat mulai merasa bahwa sesuatu itu benar hanya karena sering melihatnya. Kita mungkin berpikir, “Kalau banyak orang mengatakan seperti itu, berarti benar. Berarti aman. Berarti tidak masalah.”
Padahal, banyaknya orang yang mempercayai atau menyukai sebuah informasi tidak otomatis membuat informasi tersebut benar. Bayangkan ada potongan video berdurasi 15 detik. Seorang laki-laki mengenakan pakaian putih dengan stetoskop di leher dan berada di ruangan yang terlihat seperti tempat praktek dokter. Dengan nada meyakinkan, ia mengatakan bahwa minum es dapat menyebabkan kerusakan ginjal yang parah. Penampilannya terlihat meyakinkan. Videonya mungkin juga mendapatkan banyak tanda suka.
Namun, apakah kita sudah mengetahui siapa orang tersebut? Apakah ia benar-benar dokter? Apakah ada sumber penelitian yang mendukung pernyataannya? Atau kita langsung mempercayainya hanya karena tampilannya terlihat meyakinkan?
Di sinilah kemampuan menjaga diri di internet menjadi penting. Menjaga diri di internet tentu berbeda dengan menjaga diri di kehidupan nyata. Ketika hendak menyeberang jalan, kita diajarkan untuk melihat ke kiri dan kanan terlebih dahulu. Setelah yakin aman, barulah kita menyeberang. Di internet, hal yang paling utama adalah berpikir kritis.
Berpikir kritis berarti tidak terburu-buru mengambil kesimpulan. Ketika menemukan informasi yang terlihat meyakinkan, biasakan bertanya:
“Menarik, sepertinya benar. Tapi tunggu dulu. Apa buktinya? Siapa yang mengatakan ini? Apa sumbernya? Apakah ada kepentingan tertentu di balik informasi tersebut?”
Informasi di internet dapat berupa fakta, opini, maupun manipulasi. Karena itu, berpikir kritis bukan hanya mencari fakta, tetapi juga memeriksa bukti, sumber, konteks, dan kepentingan di balik sebuah informasi. Kita juga perlu berani menolak mengikuti pendapat kelompok sendiri ketika informasi tersebut terasa janggal. Informasi yang keliru tidak selalu datang dari orang asing. Terkadang justru berasal dari lingkungan yang paling kita percaya.
Ketika menemukan informasi, cek siapa sumbernya. Tanyakan apa keuntungan yang mungkin diperoleh seseorang jika kita mempercayainya. Apakah ada kepentingan ekonomi, politik, atau promosi produk? Bandingkan dengan informasi dari sumber lain. Ketika melihat foto, periksa asalnya. Ketika membaca kutipan, cari konteks dan sumber aslinya.
Kemampuan seperti inilah yang menjadi bagian penting dari keselamatan digital. UNICEF juga menekankan pentingnya membekali anak dengan pengetahuan mengenai cara tetap aman ketika berada di ruang daring. Dalam kajian UNICEF tentang kebiasaan daring anak Indonesia, hanya 37,5 persen anak yang dilaporkan pernah mendapatkan informasi tentang bagaimana menjaga keamanan dirinya saat menggunakan internet.
Dulu, ketika orang tua mengantarkan kita ke sekolah, mereka menjaga dan membimbing kita sampai ke depan gerbang dengan harapan suatu hari kita mampu pergi sendiri dengan aman. Begitu pula dengan literasi digital.
Tujuannya bukan membuat kita takut menggunakan internet, melainkan membekali kita agar mampu menikmati internet tanpa dikuasai oleh internet.
Bagikan artikel ini

