Menyimpan tidak selalu menjadi suatu hal yang baik jika dikaitkan dengan pengelolaan file digital. Sebab, penumpukan penyimpanan ini dapat menciptakan juga penumpukan masalah yang tidak pernah kamu sadari.
Sudah berapa banyak foto dari bertahun-tahun lalu dan masih tersimpan di galeri ponselmu sekarang? Padahal foto-foto tersebut tidak semuanya penting. Ada tangkapan layar dari postingan mantan yang tidak lagi berperan di hidupmu, tangkapan layar resep masakan yang entah akan kamu gunakan kapan, foto random yang mengabadikan informasi saat mengikuti suatu acara, tetapi tidak pernah kamu sentuh lagi. Semua itu hanya kamu simpan sampai tertimbun memenuhi penyimpanan yang sudah over itu. Pemikiran “jangan hapus deh siapa tahu nanti butuh”, selalu menjadi siklus yang tidak pernah berhenti. Kamu tidak sendiri jika melakukan hal ini, survei di Amerika pada tahun 2020 menunjukkan bahwa sekitar 41% dari 2000 orang Amerika pada penelitian tersebut mengaku tidak menghapus file-file digital mereka. Bahkan, 78% hanya melakukan transfer file dari satu device ke device lainnya daripada harus menghapus dan kehilangan file tersebut.
Fenomena ini disebut juga dengan digital hoarding yang semakin dipengaruhi oleh kebiasaan prokrastinasi (penundaan) dan kelelahan mengambil keputusan (decision fatigue) sehingga membuat proses menghapus berkas dalam jumlah besar menjadi semakin melelahkan dan berat untuk dilakukan. Alasan seseorang menjadi digital hoarder karena keterikatan emosional yang kuat terhadap data tersebut. Orang-orang yang menahan diri untuk menghapus file lama biasanya file tersebut memiliki kenangan mendalam dan indah. Kenyataan ini memunculkan ketakutan dan rasa bersalah saat menghapusnya, sehingga membuat opsi “menyimpan’ menjadi jalan paling aman dan minim risiko.
Padahal digital hoarding juga memiliki beberapa dampak dari segi digital maupun kesehatan mental. Dari segi digital, dampaknya tidak jauh dari penuhnya penyimpanan perangkat, penurunan performa perangkat seperti lag atau error saat menjalankan aplikasi tertentu karena penyimpanan yang penuh tadi, memperbesar potensi kebocoran data karena file yang tidak dipilah dengan baik, dan semakin banyak menimbun maka kamu akan semakin kewalahan dalam mengelolanya. Selain menghadirkan dampak dari segi digital, digital hoarding juga berdampak pada kesehatan mental. Orang yang memiliki kebiasaan menimbun akan rentan merasakan cemas. Khususnya bagi Generasi Z yang menjadikan media digital sebagai otak eksternal untuk memperoleh kendali, tetapi justru memperkuat perasaan tidak terkendali, menimbulkan rasa cemas, stres, serta kelelahan akibat paparan informasi berlebihan sehingga sulit mengelola akumulasi file digital yang dimiliki. Bahkan, dari hasil penelitian dari Journal of Online Media and Society menunjukkan bahwa digital hoarding menyebabkan perubahan tingkat depresi sebesar 19 persen, kecemasan sebesar 38 persen, dan stres sebesar 15 persen pada partisipan.
Sejalan dengan dampak buruk yang dihasilkan dari digital hoarding, terdapat beberapa langkah yang bisa kamu lakukan agar tidak terus terjebak dalam masalah ini. Pertama, kamu perlu membangun kesadaran dari dalam dirimu sendiri bahwa sebelum menyimpan sesuatu, tanyakan lagi urgensi dari file tersebut. Lalu, ketika kamu ingin mempertahankan suatu file, tanyakan juga pada diri sendiri sampai kapan file tersebut boleh bertahan dan kenapa harus dipertahankan. Pastikan jawaban yang kamu berikan logis dan tidak melibatkan perasaan apapun ya. Cara kedua, kamu bisa melakukan penjadwalan penghapusan file setiap seminggu sekali. Dalam seminggu kamu mungkin secara tidak sadar mengabadikan banyak momen, menangkap layar banyak informasi, dan mengunduh beberapa file karena butuh. Tidak ada salahnya dengan semua itu asalkan di satu waktu tertentu kamu bisa memilah itu semua lagi. Jadwal yang kamu buat ini perlu dilakukan secara rutin agar tidak terjadi penumpukan dalam waktu lama.
Cara ketiga, saat hendak menghapusnya, kamu bisa memulai dari yang paling mudah. Langkah ini akan mengurangi beban kognitif dan otak akan bekerja lebih ringan tanpa melibatkan emosi dalam. Misalnya kamu bisa memulai menghapus tangkapan layar tidak penting, file-file unduhan paling lama, atau foto-foto dump yang sudah tidak digunakan lagi. Sebenarnya, kunci utama untuk lepas dari masalah ini, yakni kesadaran logika dalam mengelola setiap file digital. Jika memang beberapa file pantas disimpan lebih lama karena ada logika yang mendasarinya, maka simpanlah. Namun, jika sebaliknya, maka relakan file tersebut untuk masuk pada “sampah” tanpa perlu merasa bersalah. Kamu perlu tahu bahwa membuang file lama yang tidak lagi kamu butuhkan bukanlah bentuk kejahatan, tetapi kebaikan pada dirimu sendiri agar tidak lagi merasa kewalahan karena terus-terusan menyimpan.
Bagikan artikel ini

