Oversharing di Media Sosial Berpotensi jadi Pintu Masuk untuk Berbagai Bentuk Kejahatan
Literasi Digital

Oversharing di Media Sosial Berpotensi jadi Pintu Masuk untuk Berbagai Bentuk Kejahatan

Adira Putri Aliffa5 kali dilihat

Tidak ada yang salah dengan membagikan momen di media sosial. Namun, kamu juga perlu membatasinya untuk tidak oversharing agar terhindar dari kejahatan.

Media sosial masih dan akan selalu menjadi tempat berbagi untuk semua orang. Kemudahan akses dan kecanggihan fiturnya membuat banyak orang terbiasa membagikan momen apapun dalam hidup mereka di media sosial pribadi. Baik itu Instagram, Tiktok, Facebook, Twitter, Threads, dan lain-lain. Hanya saja tidak banyak orang mengetahui apa saja batasan dalam berbagi di sana. Beberapa orang masih berlebihan dalam membagikan sesuatu yang dapat berpotensi mengancam keselamatan diri. Hal ini sering dikenal dengan istilah oversharing.

Oversharing sebenarnya berasal dari bahasa Inggris yang berarti membagikan sesuatu secara berlebihan. Fenomena ini seringkali melanggar batas dengan mengungkapkan informasi yang terlalu pribadi, tidak sesuai konteks, atau tidak mempertimbangkan dampak sosialnya (Andalibi, 2018). Bentuk oversharing di media sosial bisa berupa banyak hal. Misalnya postingan yang menginformasikan bahwa kamu sedang liburan selama beberapa hari di luar kota. Baik itu dengan menyebutkan destinasi, waktu, atau informasi detail tertentu. Kamu membagikannya di Instagram story secara real time dan tanpa sadar ada orang yang tiba-tiba menjadikan itu sebagai pintu masuk untuk aksi kejahatan.

Terdapat berbagai bentuk kejahatan juga yang dapat dilakukan, yakni bisa berupa penguntitan, perampokan rumah yang kamu tinggalkan, penculikan saat kamu berada di tempat yang kamu bagikan, dan lain-lain. Dirangkum dari ABC7 News, 78% pelaku kejahatan memang seringkali memanfaatkan media sosial untuk mengintai target. Penjahat juga memanfaatkan bantuan aplikasi lain seperti GPS dan Google Street View. Terlebih lagi bagi pencuri yang ingin melakukan perampokan, penculikan, bahkan pembunuhan. 

Sebenarnya alasan beberapa orang sering oversharing ini sangat berhubungan dengan mekanisme psikologis manusia. Dari setiap jumlah like, komentar, save dan share selalu memicu pelepasan dopamin yang menciptakan efek kecanduan. Bahkan sampai merasa harus terus berbagi hanya untuk mendapatkan kesenangan instan tersebut. Apalagi platform media sosial sudah dirancang untuk menciptakan pemikiran dan kesadaran para pengguna agar berbagi lebih banyak. Hal ini disebabkan oleh model bisnis yang bergantung pada keterlibatan pengguna. Semakin unik dan personal cerita yang dibagikan, maka semakin tinggi juga engagement yang dihasilkan. 

Informasi yang mungkin saja terlihat sepele justru bisa menjadi informasi kunci bagi penjahat. Contohnya kamu terlalu bersemangat saat pertama kali naik pesawat lalu mengunggah foto boarding pass tanpa menyensor data-data penting. Lalu, ketika baru menerima paket kamu juga langsung memotret dan mengunggahnya tanpa menyembunyikan detail informasi personal. Adapun contoh yang lain, misalnya orang tua yang mengunggah foto atau kegiatan anaknya secara berlebihan. Mulai dari kegiatan berangkat sekolah, jam berangkat sekolah, melakukan rekaman video yang menunjukkan nama sekolah. Tanpa sadar, hal-hal tersebut bisa saja menjadi peluang bagi penjahat untuk melakukan penculikan anak. 

Terlepas dari kenyataan bahwa generasi apapun bisa saja melakukan oversharing, tetapi Gen Z dinilai memiliki kemungkinan oversharing lebih tinggi karena menganggap media sosial sebagai ruang aman untuk mengekspresikan perasaan, pengalaman, bahkan kerentanan. Kenyataan tersebut menjadikan mereka sebagai kelompok yang rentan terhadap praktik oversharing, baik secara sadar maupun tidak (Laka dkk, 2024). Beberapa Gen Z masih sering bercerita tentang permasalahan pribadi di media sosial mereka, mengungkapkan drama atau konflik hidup secara berlebihan hanya untuk mendapatkan atensi, dan lain-lain. 

Semua hal tersebut dilakukan karena dasar “kebebasan berekspresi”. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan mengekspresikan sesuatu, tetapi juga perlu memahami pentingnya menyaring hal-hal apa saja yang perlu diekspresikan. Banyak orang perlu lebih sadar untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman dalam berbagi. Sebagaimana dijelaskan oleh (Pratasik & Rianto, 2020) bahwa penggunaan sistem digital memerlukan kesadaran akan pengelolaan data agar tidak menjadi bumerang bagi penggunanya 

Tips Memberikan Batasan dalam Berbagi di Media Sosial

Jika setelah membaca tulisan ini kamu semakin ragu untuk berbagi, maka kamu perlu membaca ulang lagi. Tulisan ini bukan dibuat untuk melarangmu berbagi di media sosial. Justru berbagi sangat diperlukan apalagi dI era gempuran personal branding yang semakin penting. Tentunya pemanfaatan media sosial memang perlu untuk membangun kepercayaan dan membuktikan kredibilitas. Tidak ada salahnya untuk berbagi, hanya saja kamu perlu memahami batasan-batasan tertentu agar apa yang kamu bagikan tidak berbalik dalam bentuk kejahatan. 

Sebelum mengunggah sesuatu, coba tanyakan kepada diri sendiri: “apakah unggahan tersebut aman dilihat orang asing?”. Pertanyaan refleksi ini akan membuatmu berpikir ulang untuk menyaring hal-hal yang perlu dibagikan. Misalnya, kamu boleh-boleh saja membagikan momen saat liburan, tetapi jika kamu langsung mengunggahnya secara real time apakah ada dampak yang ditimbulkan? Apakah ada informasi yang berisiko mengundang hal buruk? Jika masih ragu, kamu bisa menundanya terlebih dahulu. Unggah saja dalam beberapa jam kemudian atau mungkin setelah liburanmu selesai. 

Sebenarnya ini juga tergantung media sosial apa yang kamu gunakan, siapa saja yang menjadi pengikutmu, dan faktor lainnya. Namun, alangkah lebih baik untuk hati-hati agar tidak membagikan momen secara real time dan terus-menerus. Dalam konteks bercerita di media sosial, kamu juga bisa memilah informasi mana saja yang boleh diketahui orang lain. Informasi mana saja yang bisa menjadi inspirasi atau motivasi dan mana yang menjadi bumerang bagi diri sendiri. Kepekaan sangat dibutuhkan untuk menyadari hal ini.

Selain itu, sebelum menekan tombol “upload”, periksa lagi detail-detail informasi yang tertera, pastikan tidak ada informasi personal seperti alamat rumah, nomor telepon, plat nomor atau apapun itu. Ruang publik sangatlah luas, sehingga kamu perlu berhati-hati agar informasi pribadimu tidak dikonsumsi atau bahkan disalahgunakan dalam ruang tersebut. Jika kamu masih bingung, berikut beberapa pertanyaan yang bisa kamu tanyakan kepada diri sendiri sebelum berbagi: (1) Apakah unggahan ini mengungkap identitasku secara detail dan berpotensi merugikan?, (2) Apakah unggahan ini menunjukkan lokasiku saat ini?, (3) Apakah unggahan ini bisa dipakai untuk menebak password atau pertanyaan keamanan?, (4) Apakah aku tetap nyaman jika unggahan ini dilihat orang asing atau masih ada lima tahun lagi?

Apabila semua pertanyaan tersebut sudah terjawab dan kamu merasa aman, maka silahkan untuk membagikan hal tersebut. Pada akhirnya, kamu selalu memiliki hak atas apapun yang kamu bagikan. Namun, jangan sampai kebebasan menggunakan hak tersebut justru menarik kerugian yang kamu rasakan sendiri ya. Tetaplah berbagi hal-hal baik di media sosial sambil tetap memahami bahwa tidak semua hal menjadi konsumsi publik. Di era digital, menjaga privasi bukan berarti menutup diri, tetapi memahami batas tentang hal yang boleh dibagikan dan hal yang cukup disimpan demi keselamatan jangka panjang. 

Referensi

ABC7 News. https://abc7news.com/post/burglars-use-social-media-to-find-next-victims/448107/ 

Andalibi, N. 2018. Self-Disclosure and Response Behaviors in Socially Stigmatized Contexts on Social Media. Drexel University. 

Pratasik, S., & Rianto, I. 2020. Pengembangan Aplikasi E-DUK Dalam Pengelolaan SDM Menggunakan Metode Agile Development. CogITo Smart Journal, 6(2), 204-216. Doi https://doi.org/10.31154/cogito.v6i2.267.204-216 

Laka, L., dkk. 2024. Pendidikan karakter Gen Z di era digital. PT. Sonpedia Publishing Indonesia. 

Bagikan artikel ini