Sandwich generation menjadi fenomena yang terus diperbincangkan dari berbagai sisi. Tanpa sadar, generasi ini juga ternyata bisa rentan jadi sasaran penipuan digital.
Generasi sandwich atau sandwich generation menjadi fenomena yang masih terus hangat diperbincangkan dari waktu ke waktu. Populasi dari generasi ini cukup banyak di Indonesia. Hal ini berhasil dibuktikan berdasarkan data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (2022) yang menunjukkan bahwa 8,4 juta penduduk Indonesia (62,71%) termasuk dalam sandwich generation. Istilah yang jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia berarti “generasi roti lapis” ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang profesor asal Amerika Serikat yang bernama Dorothy A. Miller pada tahun 1981 (Khalil dan Santoso, 2022).
Menurut Dorothy, generasi ini merujuk pada individu yang terhimpit di antara dua generasi yang berbeda. Baik itu orang tua dan adik, orang tua dan anaknya, kakek nenek dan keponakannya, atau anggota keluarga siapapun yang membutuhkan bantuannya. Fenomena ini semakin menonjol jika terdapat perubahan struktur keluarga yang membuat individu menjalani peran tambahan untuk menggantikan peran lainnya. Sejalan peran ganda dan tanggung jawabnya, tidak banyak orang sadar bahwa generasi ini bisa saja menjadi sasaran empuk para penipu di dunia digital. Berikut adalah tiga alasan mengapa sandwich generation rentan menjadi sasaran penipuan digital.
Tekanan ekonomi dari berbagai sisi
Tidak dapat dipungkiri lagi, tekanan ekonomi selalu menjadi faktor utama seseorang dapat terjebak dalam penipuan digital. Khususnya bagi sandwich generation yang mungkin ingin mencari uang tambahan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Beberapa dari mereka yang mencoba mencari pekerjaan di media sosial. Mereka melakukan scrolling informasi lowongan pekerjaan mulai dari satu aplikasi sampai belasan aplikasi lainnya. Namun, sayangnya bisa saja mereka justru tertipu oleh lowongan kerja palsu.
Fenomena lain yang bisa saja terjadi, misalnya jika sandwich generation memiliki kebutuhan mendesak untuk membeli suatu barang. Harga dari barang itu sangat murah, tetapi malah tertipu, uang hilang dan barang tidak terkirim. Terdapat kemungkinan lainnya lagi, misal jika mereka sudah hampir putus asa untuk mencari uang. Lalu, mereka terjebak dalam siklus setan seperti pinjaman online dengan bunga rendah. Namun, iming-iming bunga rendah ini justru sebuah kedok penipuan yang membuat mereka sulit keluar dari jeratan hutang. Bukannya menemukan solusi, malah masalah lain yang datang menghampiri karena keterbatasan ekonomi.
Dominasi rasa tanggung jawab dan kurangnya literasi keuangan digital
Banyak dari sandwich generation menghadapi tekanan peran yang bersifat berkelanjutan dan sistemik. Hal ini dikarenakan kuatnya budaya kekeluargaan di Indonesia yang menaruh harapan besar kepada anak untuk membantu memenuhi kebutuhan. Sejalan dengan pernyataan dari Herianti, Titin, dan Andys (2025) yang menyatakan bahwa tekanan sandwich generation tidak semata berasal dari beban individu, melainkan diperkuat oleh konstruksi sosial dan budaya yang menetapkan ekspektasi terhadap peran anak dalam keluarga.
Sebenarnya tidak ada yang salah untuk membantu orang tua ataupun anggota keluarga. Justru hal tersebut menjadi ladang pahala, tetapi juga perlu diseimbangkan dengan edukasi. Adanya tanggung jawab yang besar ini memang membuat mereka melakukan dan mengorbankan banyak hal. Hanya saja tanggung jawab tersebut tetap perlu disertai dengan literasi keuangan digital agar tidak salah langkah. Apabila mereka terjebak dalam penipuan, bisa jadi penyebabnya karena mereka kurang memahami lebih dalam tentang keamanan digital, informasi tentang dunia digital, ciri-ciri penipuan, dan hal-hal lain yang mengancam. Maka dari itu, sangat perlu untuk meningkatkan literasi dari banyak sisi agar tanggung jawab tidak berujung pada hal-hal yang membuat rugi.
Kelelahan emosional dan pikiran dapat mengacaukan fokus
Berbagai tekanan, tanggung jawab, dan peran ganda yang dijalani oleh generasi sandwich dapat berimplikasi pada penurunan kesehatan, peningkatan stres, dan ketidakmampuan untuk menemukan keseimbangan dalam hidupnya (Yuliana, 2021). Bahkan, survei dari American Phsychological Association (2021) yang menunjukkan bahwa 66% individu dalam sandwich generation mengalami stres kronis akibat tekanan finansial dan emosional. Seringkali situasi tersebut memengaruhi cara membentuk pilihan hidup, menjalin relasi sosial, dan menentukan keputusan masa depan. Adanya tumpang tindih antara ekspektasi budaya dan keinginan untuk memenuhi ekspektasi dapat memicu perasaan bersalah bagi 73,38% Gen Z jika tidak dapat mewujudkannya (Herviana, Annida 2025).
Semua faktor tadi dapat mengacaukan fokus sandwich generation dalam mengelola banyak hal. Khususnya dalam menggunakan aplikasi digital. Bisa saja karena terlalu lelah emosional dan pikiran, mereka jadi membuat keputusan impulsif bahkan keputusan yang mengancam keselamatan. Tidak jarang juga karena fokus yang kacau, mereka sulit membedakan informasi yang benar dan yang salah. Kondisi inilah yang menjadi celah bagi penipu untuk melakukan aksi kejahatannya.
Sejalan dengan hal-hal di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa sandwich generation sebenarnya sangat butuh dukungan, penyuluhan, dan edukasi terkait keuangan agar tidak terjerat berbagai penipuan digital. Peran pemerintah, masyarakat, bahkan dari sisi keluarga perlu saling berkolaborasi satu sama lain. Baik itu dari program tertentu atau seminar khusus yang memberikan pengetahuan terkait agar kesejahteraan masyarakat juga meningkat.
Share this article
