4 Cara Menghindari Lowongan Pekerjaan Palsu Sebelum Menguras Tenaga, Waktu, bahkan Uangmu!
Keamanan Digital

4 Cara Menghindari Lowongan Pekerjaan Palsu Sebelum Menguras Tenaga, Waktu, bahkan Uangmu!

Adira Putri Aliffa5 views

Informasi lowongan pekerjaan palsu akan selalu ada di mana-mana. Namun, jika kamu mengerti jenis, pola, dan cara menghindarinya, maka kamu tidak akan terjebak dalam perangkapnya.

Puluhan bahkan ratusan lamaran pekerjaan sudah dikirim. Berbagai deretan nama portal job juga sudah diselami berhari-hari. Namun, belum ada satu pun yang menindaklanjuti lamaranmu itu. Lalu, tiba-tiba muncul postingan di media sosial lainnya tentang lowongan pekerjaan dengan gaji tinggi, syarat masuk mudah, dan proses rekrutmen cepat. Kamu yang ada di titik putus asa kembali merasakan secercah harapan setelah membacanya. Tanpa berpikir panjang, kamu langsung mengisi form yang tertera di sana, tetapi nahasnya lowongan pekerjaan itu memintamu membayar biaya admin untuk mempercepat proses selanjutnya. Kamu pun langsung mengirimnya hingga tanpa sadar kamu terjebak oleh lowongan kerja palsu yang menguras waktu, tenaga, dan uangmu.

Di lain hari, kamu mulai mencoba mengirim lagi dengan sisa-sisa semangat yang masih kamu miliki. Kali ini, kamu lebih waspada agar tidak lagi terjerat pada lowongan yang melibatkan biaya di awal rekrutmen. Hingga akhirnya sebuah informasi lowongan pekerjaan baru mulai menarik hati. Untungnya, loker yang ini tidak mengharuskan biaya apapun. Calon kandidat hanya perlu mengirim, CV, portofolio, dan mengerjakan skill test. Skill test yang diberikan lumayan menantang, bahkan semua ide-ide brilian sudah tertuang di sana dengan harapan bisa lekas diterima. Namun, sayangnya, setelah skill test, tidak ada kabar apapun yang kamu terima. Padahal semua ide di kepala sudah terkuras habis dan sedihnya ide yang dituangkan saat skill test sudah jadi sebuah konten tanpa seizinmu. Tidak lama kemudian, perusahaan kembali membuka rekrutmen dengan pola yang sama. 

Semua cerita tadi adalah bagian kecil dari banyaknya jenis lowongan pekerjaan palsu di Indonesia. Ada yang melibatkan biaya di awal, ada yang sengaja mencuri ide gratisan dari proses rekrutmen, bahkan ada yang hanya ingin menaikkan engagement media sosial perusahaan dengan informasi lowongan kerja. Miris jika melihat hal ini, padahal jumlah pengangguran di Indonesia masih tergolong tinggi. Tingkat Pengangguran Terbuka di Indonesia pada Februari 2026 tercatat sebesar 4,68 persen, atau setara dengan 7,24 juta orang dari total 154,91 juta angkatan kerja. Sempitnya lapangan pekerjaan ditambah lagi dengan banyaknya lowongan pekerjaan palsu seolah seperti meredupkan harapan para calon pekerja. 

Alasan dari Banyaknya Jenis Lowongan Pekerjaan Palsu

Survei dari Resume Builder menunjukkan bahwa 40% perusahaan mengaku bahwa mereka memasang lowongan kerja palsu pada tahun 2024. Alasan dari hal ini dapat terjadi dipengaruhi oleh beberapa motif. Di tengah sengitnya persaingan dunia bisnis, tentunya setiap perusahaan ingin menaikkan branding mereka. Membuka lowongan pekerjaan padahal tidak ada peran yang perlu diisi menjadi salah satu cara licik untuk menarik atensi banyak orang. Biasanya mereka akan mengunggahnya di media sosial. Lalu, syarat-syarat yang dilakukan biasanya mengharuskan calon kandidat untuk membagikan postingan tersebut. Taktik ini dilakukan untuk menaikan engagement akun perusahaan demi peningkatan performa konten. Sampai di mana banyak lamaran yang diterima, tetapi justru dibiarkan begitu saja karena perusahaan tidak benar-benar membutuhkannya. Fenomena ghost job ini juga dilakukan agar perusahaan terkesan terbuka dengan talenta eksternal dan terlihat seperti sedang berkembang. Di sisi lain, taktik ini juga menjadi penenang bagi karyawan sebelumnya agar mereka merasa beban kerja akan segera berkurang karena rekrutmen baru. 

Selain adanya fenomena ghost job dengan alasan di atas, ada juga jenis kriminalisasi loker palsu. Data Bareskrim Polri mencatat bahwa terdapat 823 korban penipuan lowongan kerja pada tahun 2022–2024 dengan total kerugian mencapai Rp59 miliar. Lalu, sekitar 3.239 WNI yang teridentifikasi dalam operasi scam online di Asia Tenggara bermula dari tawaran kerja palsu. Motif dari para oknum yang memasang lowongan pekerjaan palsu tidak jauh-jauh dari keinginan untuk mencuri uang, data pribadi, bahkan kasus besar seperti human trafficking berkedok pekerjaan di luar negeri. Sudah banyak sekali kasus human trafficking di luar negeri yang merugikan banyak orang. Banyak dari korbannya berasal dari Indonesia. 

Cara Menghindari Lowongan Pekerjaan Palsu Sebelum Terjebak

Dari banyaknya jenis lowongan pekerjaan palsu dan motif para oknum menciptakan lowongan tersebut, sebagai para pencari kerja tentunya perlu lebih berhati-hati. Literasi digital sangatlah diperlukan untuk perlindungan diri melalui edukasi. Salah satunya dengan menyimak empat cara menghindari lowongan pekerjaan palsu di bawah ini. 

  • Tanamkan mindset: “Kalau nyata, harusnya tanpa biaya”

Mulai sekarang, kamu perlu mencurigai dan waspada ketika melihat lowongan pekerjaan yang meminta biaya administrasi di awal. Terlepas dari apapun alasannya, meskipun terlihat masuk akal pun, jangan sampai kamu terjebak dan luluh untuk memberikan uang secara percuma. Perusahaan yang benar-benar membutuhkanmu tidak akan menguras uangmu di awal. Justru perusahaan resmi akan sangat menghargai skill dan minatmu untuk bergabung bersama mereka. Jadi, jangan sampai karena saking putus asanya dalam mencari pekerjaan, kamu sulit berpikir jernih untuk memilih pekerjaan palsu dan tidak ya. 

  • Waspadai urgensi yang tidak wajar sambil lakukan verifikasi 

Pernahkah kamu mengalami kejadian ketika kamu didesak untuk melakukan sesuatu saat melamar pekerjaan? Misalnya didesak untuk segera mengirim data diri secara detail, didesak untuk mengirimkan uang, didesak untuk melakukan hal lain yang mungkin tidak masuk akal. Jika hal-hal tersebut terjadi, segeralah melakukan verifikasi lanjutan. Tahan dulu perasaan ingin memenuhi permintaan oknum mencurigakan tersebut. Bisa jadi mereka sedang memanfaatkan rasa panik dan empatimu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Selalu pastikan bahwa lowongan pekerjaan yang kamu terima itu berasal dari perusahaan resmi ya. Lakukan verifikasi dengan riset sebaik-baiknya di internet atau dengan bertanya pada orang-orang yang sekiranya tahu itu.

  • Lindungi data pribadimu di awal proses rekrutmen

Saat melakukan proses rekrutmen, para calon kandidat memang selalu diminta untuk mengirimkan CV dan portofolio. Namun, pastikan bahwa informasi di sana sudah terjamin aman untuk tersebar ya. Cukup sisipkan saja informasi-informasi relevan tentang pekerjaan atau peran yang kamu lamar. Lalu, kamu juga perlu berhati-hati saat kamu diminta untuk mengisi formulir dan di sana tertera untuk melampirkan dokumen sangat personal. Misalnya melampirkan KTP, Kartu Keluarga, Nomor Rekening, dan informasi personal lainnya, padahal masih masuk proses awal rekrutmen dan belum dipastikan diterima. Pastikan untuk melindungi data pribadimu tersebut sebelum disalahgunakan oleh oknum tidak bertanggungjawab, ya.

  • Edukasi orang sekitar agar tidak terjebak juga

Cara terakhir ini menjadi salah satu hal yang paling penting agar siklus kasus lowongan pekerjaan palsu ini dapat berhenti. Jika kamu memiliki pengalaman atau mengetahui suatu informasi lowongan palsu, kamu bisa mengedukasi orang sekitar agar tidak mendaftarkan diri di sana. Kamu juga bisa melaporkannya ke pihak berwenang agar lowongan pekerjaan palsu itu bisa ditindaklanjuti. 

Sebenarnya, informasi lowongan pekerjaan palsu akan selalu ada di mana-mana. Namun, untuk menghindarinya, kamu bisa mengedukasi diri dengan memperbanyak literasi dan verifikasi sebelum melamar pekerjaan. Langkah preventif ini sangat berguna agar segala waktu, energi, dan uangmu tidak terbuang sia-sia. Pastikan kamu tetap mawas diri sekaligus kritis sebelum melakukan sesuatu untuk masa depan kariermu, ya.

Share this article