Belajar dari Drakor "Boyfriend on Demand": Seberapa Besar Dampak Pacar AI di Dunia Nyata?
Literasi Digital

Belajar dari Drakor "Boyfriend on Demand": Seberapa Besar Dampak Pacar AI di Dunia Nyata?

Adira Putri Aliffa6 views

Ketika dunia darurat rasa kesepian, seberapa besar dampak pacar AI atau pacar virtual digunakan sebagai bentuk pelarian untuk mencari kesenangan? Apakah dampak negatifnya lebih besar daripada dampak positifnya?

Di tengah padatnya kesibukan, drama masih menjadi salah satu penghibur untuk menghapus rasa lelah. Salah satunya drama yang mencerminkan realita dunia modern, yakni drama Korea Boyfriend on Demand. Drakor yang tayang pada bulan Maret 2026 ini mengisahkan tentang Seo Mi-rae, seorang produser webtoon di sebuah industri hiburan. Rutinitasnya sebagai pekerja kantoran membuatnya sering merasa bosan dan mencoba mencari pelarian lewat hal-hal baru. Suatu hari, seorang kenalannya meminta bantuan untuk memberikan review terhadap sebuah teknologi yang baru dibuatnya. Teknologi tersebut berupa layanan virtual dating simulation berbasis AI atau kecerdasan buatan. 

Layanan ini memungkinkan penggunanya untuk melakukan kencan virtual dengan pacar ideal yang disesuaikan oleh standar algoritma pilihan. Kencan ini dirancang untuk menyenangkan penggunanya tanpa ada risiko patah hati, tanpa adanya drama yang rumit, dan dapat diakses kapan saja. Seo Mi-rae yang merasakan kesepian dan bosan dengan rutinitasnya pun mencoba layanan tersebut. Terdapat berbagai pilihan pacar dengan karakter, pekerjaan, visual, love language, dan cerita yang berbeda. Semua itu dirancang untuk memenuhi kebutuhan emosional bagi para single yang merasa lelah saat berpacaran di dunia nyata, tidak lekas menemukan sosok yang tepat di hidup mereka, atau bahkan yang sekadar ingin mencari pelarian dari lelahnya rutinitas seperti Seo Mi-rae.

Dampak Adanya Aplikasi Serupa di Dunia Nyata

Kemajuan teknologi seringkali membantu manusia untuk meringankan berbagai masalah. Salah satunya tentang masalah loneliness epidemic, sebuah fenomena yang merujuk pada peningkatan rasa kesepian, terisolasi, atau tidak memiliki ikatan sosial bermakna dalam peradaban manusia. Meskipun secara fisik mereka selalu dikelilingi oleh orang lain di sekitar mereka. Perasaan sepi itu tetap ada dan bisa menjadi kronis serta berdampak pada kesehatan mental jika tidak diatasi dengan baik. Data dari World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa kesepian dan isolasi sosial dapat menyebabkan sekitar 871.000 kematian setiap tahun. Efek dari fenomena ini seperti merokok 15 batang tembakau setiap hari dan meningkatkan risiko kematian dini sebesar 26% hingga 32%.

Sejalan dengan permasalahan ini, beberapa pengembang aplikasi AI Companion semakin melatih teknologi mereka untuk bisa turut mengurangi dampak negatif dari kesepian ini. Salah satunya adalah pembuatan aplikasi pacar virtual yang ternyata sudah ada sebelum kemunculan drakor Boyfriend on Demand. Hanya saja aplikasi di dunia nyata belum secanggih yang ada di drama. Terdapat beberapa aplikasi seperti, Anima, Ourdream, Candy, Nomi, Lovescape, dan lain-lain.

Tugas mereka bermacam-macam, mulai dari sekadar teman untuk saling mengirim pesan, mengirimkan voice note, dan menariknya pacar AI tersebut dapat dipersonalisasi sesuai kebutuhan pengguna. Banyak orang yang mengunduh aplikasi tersebut, salah satunya pada aplikasi Anima dengan jumlah unduhan mencapai satu juta. Angka tersebut membuktikan bahwa potensi dari teknologi ini menarik hati banyak pengguna yang bisa jadi mencari pelarian dari dunia nyata dan mengusir rasa kesepiannya. 

Fenomena ini tentu memiliki dampak positif, yakni mengurangi rasa kesepian secara terukur. Orang-orang yang menggunakan aplikasi ini dapat meluapkan segala hal di kepala tanpa takut dihakimi atau diabaikan. AI pun akan merespon dengan baik sesuai dengan ekspektasi para penggunanya. Lalu, orang-orang kesepian akan merasakan kehadiran sosok yang selalu ada untuk mereka. Entah itu memberikan balasan secara cepat atau memerhatikan detail-detail kecil pada diri mereka. Bahkan, survei dari  penelitian De Freitas et al (2024) menunjukan bahwa AI companion memang dapat mengurangi perasaan kesepian pada penggunanya. Penurunan rasa kesepian ini sama baiknya dengan berinteraksi dengan manusia dan lebih baik daripada melakukah kegiatan pasif seperti menonton, membaca, dan lain sebagainya.

Selain dampak positif di atas, keberadaan pacar AI juga dapat mendukung kesehatan emosional dan melatih ikatan sosial. Respon yang cepat, cerdas, dan berusaha mengerti situasi dari pengguna membuat AI selalu diandalkan sebagai bentuk dukungan secara instan. Peran penting AI pun sampai dapat menghentikan keinginan seseorang untuk bunuh diri ketika merasa rapuh. Hal ini dibuktikan dengan penelitian dari di Jurnal Pubmed Central yang menunjukkan bahwa 3% dari 1006 mahasiswa menyatakan bahwa AI bernama Replika berhasil menghentikan niatan untuk bunuh diri. Kenyataan ini semakin memperkuat bukti bahwa AI juga bisa bertindak sebagai penyelamat hidup seseorang. 

Di balik dampak positif yang menyenangkan, dampak negatif dari penggunaan AI sebagai pacar virtual ini juga hadir jika tidak dipantau dengan baik. Para pengguna akan semakin bias dalam menanggapi rasa kesepian mereka. Seringkali karena mereka selalu bergantung pada teknologi, mereka jadi lupa untuk membangun interaksi di dunia nyata. Hal inilah yang akan mendatangkan bahaya bagi mereka dan mendatangkan keburukan atas dampak dari kesepian yang lebih besar. Ketergantungan emosional yang fiktif akan membuat mereka semakin meragukan emosinya sendiri. Hingga pada akhirnya, banyak pengguna berpotensi kehilangan koneksi tulus yang nyata dan bisa jadi lupa cara untuk menjadi manusia seutuhnya. Lebih parahnya lagi, akan muncul standar yang tinggi dalam sebuah hubungan karena terlalu menjadikan teknologi pacar AI sebagai acuan. 

Bahkan, jika berlebihan dalam menggunakan teknologi pacar AI ini akan memunculkan potensi masalah kesehatan mental lainnya. Seperti memicu delusi dua arah atau amplifikasi keyakinan. Istilah ini dikenal sebagai "technological folie à deux”, sebuah fenomena psikologis dan teknologi akibat interaksi dengan AI yang memicu, mencerminkan, memperkuat delusi atau keyakinan keliru pada penggunanya. Istilah ini berasal dari bahasa Prancis folie à deux yang berarti "kegilaan dua orang" (gangguan psikotik bersama). Situasi ini dapat terjadi karena adanya validasi tanpa batas yang terus menerus membuat penggunanya merasa benar meskipun salah. Tindakan ini akan memunculkan bias informasi dan berisiko membuat pengguna justru kesulitan menyimpulkan sesuatu. Jika hal ini tidak diberi batas yang sehat, maka dampak-dampak negatif lainnya akan semakin bercabang dan merugikan manusia.

Refleksi antara Drama dan Realita

Drama Korea Boyfriend on Demand dinilai sangat berhasil mencerminkan realitas dunia modern yang kuat dengan kemajuan teknologinya. Seo Mi-rae berhasil merefleksikan para single yang sibuk bekerja dan mencari pelarian melalui teknologi, salah satunya pacar virtual. Tidak ada yang salah dengan hal ini jika hanya dijadikan sebagai hiburan dengan batasan sehat. Penggunaan pacar AI ini sama halnya seperti menonton film, mendengarkan lagu, ataupun bermain game virtual. Semua itu hanya bentuk hiburan untuk mengurangi stres dan kelelahan di dunia nyata. Asalkan tidak berlebihan dan penggunanya bisa tetap menikmati setiap momen dalam hidupnya. 

Pada akhirnya, koneksi tulus dan nyatalah yang dapat mengatasi kesepian itu sendiri. Kehadiran fisik dan percakapan yang hangat selalu membawa pengaruh positif dibanding hal-hal tidak nyata. Namun, semua itu kembali pada diri masing-masing, apakah ingin terus merasakan kebahagiaan yang semu atau justru ingin mencoba menciptakan kebahagiaan yang nyata lewat interaksi bersama manusia? Keberadaan pacar AI menjadi sebuah kabar baik sekaligus kabar buruk, semua tergantung pada seberapa besar batasan yang ditetapkan manusia dalam menggunakannya. 

Share this article