Lesson Learned dari Maraknya Love Scam, Ketika Cinta jadi Jebakan
Keamanan Digital

Lesson Learned dari Maraknya Love Scam, Ketika Cinta jadi Jebakan

Adira Putri Aliffa9 views

Love scam jadi bentuk penipuan berbasis manipulasi perasaan yang menciptakan banyak kerugian bagi para korban. Pelaku menyalahgunakan cinta sebagai senjata untuk menguntungkan dirinya sendiri.

Panggilan “sayang” sepertinya masih menjadi senjata andalan untuk membuat seseorang menaruh hati. Bahkan, jika panggilan tersebut hanya diucapkan di media sosial dan belum pernah bertemu sebelumnya. Fenomena ini sering terjadi di aplikasi dating atau di media sosial manapun yang mempertemukan dua orang menjadi sepasang. Tanpa sadar, ketika perkenalan mulai menumbuhkan kepercayaan dan benih cinta, seseorang bisa saja memanfaatkan kedekatan tersebut untuk kepentingan pribadi. Tidak jarang juga penipuan terjadi di sana untuk merugikan pihak lainnya dengan memanfaatkan rasa cinta dan perhatian sementara. 

Fenomena ini sering disebut sebagai love scam yang merupakan jenis penipuan dengan tujuan memanipulasi perasaan korban demi mendapatkan sesuatu (uang, barang, atau data pribadi) melalui perasaan cinta dan perhatian. Penipuan ini banyak terjadi di media sosial dan mulai mengancam banyak orang. Hal ini dibuktikan oleh data dari OJK melalui Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) yang mencatat terdapat 3.494 aduan penipuan berkedok asmara atau love scam di sepanjang tahun 2025. Total kerugian finansial yang dialami korban mencapai Rp49,19 miliar. 

Mirisnya, ternyata penipuan ini bukan sekadar penipuan dari individu ke individu, tetapi ada sebuah sistem di baliknya. Sebuah sindikat love scamming di Yogyakarta berhasil ditangkap dan diproses secara hukum oleh kepolisian pada awal tahun 2026 lalu. Karyawan dalam sindikat tersebut digaji dan mendapatkan bonus dalam jumlah besar jika memiliki performa yang baik dalam menipu korbannya. Menurut karyawan di sana, awalnya lowongan kerja pada sindikat tersebut hanya tertulis “English Chat App Admin” dan banyak orang mengira itu hanya peran sebagai customer service. Padahal sebenarnya, tugasnya lebih dari sekadar itu, mereka harus masuk lebih dalam untuk membangun empati para korban dan menjalin hubungan romansa agar korban menuruti semua keinginannya. 

Beberapa orang yang terjebak oleh love scam ini seringkali datang karena rasa kesepian. Lalu, mereka merasa senang jika diberi perhatian dan validasi yang intens sepanjang waktu. Pada fase ini sering terjadi love bombing sebagai tahap awal manipulasi yang membuat korban memiliki kelekatan dan hubungan emosional. Sayangnya, otak manusia tidak memiliki kemampuan khusus untuk memprediksi ketulusan. Hal inilah yang membuat seseorang terjerat love bombing atau perhatian berlebihan di tahap awal. 

Kabar buruknya, perempuanlah yang mendominasi sebagai korban dari bentuk penipuan ini. Dilansir dari Tempo, sebanyak 60% korban love scam di Indonesia adalah perempuan. Korban love scam menunjukkan kecenderungan impulsif dan ketergantungan afektif. Kedua hal ini sebenarnya masih normal dalam konteks hubungan. Justru adanya rasa ketergantungan dan memiliki dapat dijadikan sebagai kekuatan untuk hubungan yang lebih dalam. Namun, hal baik ini disalahgunakan oleh pelaku love scam. Hingga tidak jarang banyak korban dari love scam ini mengalami traumanya sendiri. 

Korban love scam bisa saja mengalami trauma emosional dalam membangun hubungan. Bahkan, parahnya bisa mengalami PTSD, depresi, kehilangan kepercayaan diri, perasaan malu yang intens, dan paling mirisnya muncul pikiran untuk mengakhiri hidup. Hal ini bisa terjadi karena perasaan cinta yang dikhianati. Rasa sakit hati berkepanjangan dan kesulitan untuk move on membuat banyak korban mengalami pergolakan batin. 

Apalagi jika proses penipuan berlangsung dalam jangka panjang. Dampak negatif yang ditimbulkan pastinya semakin kompleks dan memperburuk kondisi mental korban setelah penipuan terungkap. Selain dampak emosional, dampak finansial juga menjadi masalah krusial dari penipuan ini. Banyaknya korban yang tergugah rasa empatinya kepada penipu, membuat mereka rela menghabiskan uang sebanyak apapun untuk membuat pelaku (pasangan) merasa senang. Hingga tanpa sadar puluhan sampai ratusan juta sudah dikirimkan. 

Lesson Learned dan Tips agar Terhindar dari Love Scam

Pelajaran yang dapat diambil dari fenomena love scam ini cukup dengan satu kalimat, yakni “hati-hati dengan hati”. Hati-hati dengan hati dari orang lain yang baru kenal beberapa hari. Hati-hati dengan hati dari orang yang baru kenal sudah meminta transferan beberapa kali. Hati-hati dengan hati dari orang yang hobi mengatakan “i love you” puluhan kali tanpa adanya aksi dan bukti. Terakhir, hati-hati dengan hatimu sendiri dan jaga sebaik mungkin agar bisa lebih peka melihat orang yang memiliki niat jahat tersembunyi.

Adapun tips agar terhindar dari love scam ini, yakni mengenali ciri, memasang batasan diri, dan melakukan verifikasi. Pertama, mengenali ciri-ciri dari love scam ini dapat kamu lihat dari perhatian yang terlalu besar di awal, membuatmu merasa yakin sangat cepat untuk membangun komitmen di awal, dan dia selalu menghindari kedekatan personal lebih dalam. Kedua, kamu juga bisa mulai memasang batasan diri jika ciri-ciri sudah terlihat. Pastikan kamu berpikir secara logis dengan memberi waktu selama beberapa hari sebelum kamu menuruti permintaan darinya. Entah itu mengirim uang, membelikan barang, atau memberikan data personal. Pemberian jeda ini akan membuatmu memiliki pemikiran secara jernih karena seringkali ikatan emosional membatas otak berpikir kritis. Ketiga, kamu bisa melakukan verifikasi identitasnya secara nyata di internet jika kamu memiliki kecurigaan padanya. Cari tahu informasi atau fakta tentang dirinya serta berita apapun. Kamu pun bisa meminta saran kepada orang terdekat agar turut membantu memberikan pandangan objektif terhadap hubunganmu. 

Love scam seringkali datang tanpa diduga seperti halnya cinta pada umumnya. Hanya saja kamu bisa belajar meningkatkan kepekaanmu untuk mendeteksi cinta yang tulus dan cinta yang hanya ingin membuat mental atau dompetmu tergerus. Keduanya bisa dirasakan jika kamu masih menggunakan pemikiran rasional sebelum melakukan apapun karena tindakan emosional sesaat.


Share this article