Being Chronically Online Bisa Bikin Digital Burnout? Pahami Dulu Cara Mengatasinya!
Kesehatan Mental di Era Digital

Being Chronically Online Bisa Bikin Digital Burnout? Pahami Dulu Cara Mengatasinya!

Adira Putri Aliffa3 kali dilihat

Terlalu lama berselancar dan menyelami dunia digital bisa jadi membuatmu cepat lelah yang berujung pada menurunnya kesehatan serta produktivitas. Kepoin dulu cara mengatasinya dengan baca artikel ini sampai habis!

Di saat dunia nyata menyita banyak energi dan menyumbang banyak rasa lelah dalam diri, beberapa orang menjadikan media sosial sebagai tempat penghiburan dan pengembalian energi. Beragamnya konten hiburan, edukasi, berita ataupun konten lainnya seringkali menghibur dan memberikan informasi. Namun, terkadang jika intensitas berselancar di media sosial berlebihan, bisa saja menjadi salah satu faktor lelahnya mental banyak orang. Masalah ini sering disebut juga sebagai digital burnout, salah satu bentuk kelelahan psikologis akibat penggunaan media sosial secara berlebihan dan berulang yang bisa saja disertai iritabilitas, penurunan konsentrasi, dan krisis eksistensial akibat tekanan untuk terus tampil di dunia digital. Fakta ini diperkuat dengan data dari We Are Social menyatakan bahwa warga Indonesia menghabiskan waktu selama 21 jam 50 menit perminggu untuk berselancar di media sosial.

Digital burnout ini bisa terjadi karena beberapa hal yang tidak hanya berputar pada masalah dari individu itu sendiri. Sebab, seorang individu pun juga tidak akan terjebak dalam doom scrolling yang membuat burnout jika aplikasi tidak mendukungnya. Tanpa sadar sistem algoritma media sosial yang dirancang dan disesuaikan agar sesuai minat dari penggunanya menjadi alasan seseorang bertahan lama di sana. Video demi video ditonton sampai tidak terasa sudah beberapa jam lewat begitu saja. Timeline media sosial atau yang kerap disebut For Your Page (FYP) selalu memberikan konten-konten menarik sehingga sayang untuk dilewatkan. 

Terlebih lagi jika seseorang takut ketinggalan informasi atau tren terbaru yang disebut dengan Fear of Missing Out (FOMO). Data dari SAGE jurnal menunjukkan bahwa FOMO juga dapat menjadi faktor penyebab seseorang mengalami stres digital atau kelelahan digital. Adanya keinginan untuk selalu online dan mengetahui tentang segala hal yang terjadi di media sosial membuat terjadinya penumpukan informasi di kepala. Lebih parahnya, jika informasi yang didapatkan kebanyakan adalah informasi negatif, sedih, atau hal-hal yang memicu reaksi emosional. Belum lagi jika seseorang melihat berbagai pencapaian orang di media sosial lalu berakhir pada perbandingan diri. Tindakan ini dapat memperparah burnout dan berpotensi menciptakan krisis percaya diri serta krisis identitas. 

Contoh nyata dari fenomena digital burnout ini terlihat jelas pada saat seorang pekerja kantoran yang menggunakan perangkat digital seperti membalas email, melakukan online meeting, menyusun online campaign, dan kegiatan digital lainnya. Apalagi jika mereka ada di bidang media sosial yang seringkali diwajibkan untuk selalu update terhadap tren atau informasi terkini. Contoh nyata lainnya juga dapat terjadi dalam kehidupan sehari-hari, khususnya bagi para siswa dan mahasiswa yang memang sudah lekat dengan teknologi. Untuk keperluan tugas, mereka seringkali harus melakukan riset di media sosial atau bahkan tugas mereka juga seringkali memanfaatkan teknologi digital. Belum lagi jika tugas tersebut sudah selesai, metode penjernihan pikiran mereka juga dengan scrolling media sosial untuk mencari hiburan. Siklus tersebut terus berulang-ulang dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, sampai tanpa sadar dunia mereka didominasi dengan hal-hal di dalam gadget. Dampak dari fenomena ini tidak hanya pada kesehatan mental seseorang, tetapi juga dapat memengaruhi produktivitas dan kesehatan fisiknya. Lamanya menatap layar dapat berpengaruh pada kesehatan mata, nyeri leher karena sering menunduk, sakit kepala, dan lain sebagainya. Jika memburuknya kesehatan seseorang, maka produktivitasnya pun akan menurun signifikan.

Kabar baiknya, ada beberapa cara untuk mencegah digital burnout ini. Cara pertama, memberikan jeda setelah melakukan aktivitas online dengan menutup semua gadget dan menonaktifkan notifikasi. Misalnya ketika kamu sudah berjam-jam menatap layar dan terus-terusan online di dunia digital, beri waktu dirimu untuk lepas dari itu semua. Kamu bisa mengobrol dengan orang-orang terdekat di dunia nyata, sekadar menikmati secangkir kopi sambil melihat pemandangan di luar jendela, berjalan di taman sambil menghirup udara segar, bermain dengan hewan peliharaan, melakukan hobi apapun yang tidak melibatkan peran teknologi digital. Kegiatan-kegiatan di atas akan menjernihkan pikiran, mengembalikan fokus, dan membuatmu lebih hidup pada momen nyata daripada hanyut dalam algoritma media sosial yang fana. 

Cara kedua, upayakan untuk tidak melakukan multitasking saat aktif di dunia digital agar otak tidak cepat lelah. Pada awalnya, mungkin kamu merasa bahwa multitasking dapat membantumu menyelesaikan banyak pekerjaan dalam waktu singkat. Namun, hal ini tidak sepenuhnya benar karena bisa jadi saat multitasking, fokusmu akan terpecah, energimu akan cepat habis, dan justru beberapa pekerjaan tidak selesai dengan optimal. Misalnya, kamu sedang melakukan online meeting yang penting sambil mengerjakan tugas dengan riset yang kuat. Bukannya fokus pada satu hal, kamu akan merasa kewalahan dalam mengendalikan kedua hal itu. Bisa jadi meeting yang butuh banyak diskusi tidak berjalan dengan baik. Lalu, tugas dengan riset yang kuat tersebut hanya menjadi tulisan abstrak tanpa kejelasan. 

Cara ketiga, jika kamu terlanjur mengalami digital burnout sampai mengganggu banyak aktivitas, maka mintalah bantuan profesional. Tingkatkan kepekaan untuk mengetahui waktu saat kamu mulai merasa ada yang salah dalam dirimu. Ciri-ciri ini bisa ditandai dengan terganggunya kesehatan, motivasi, produktivitas, dan segala hal yang tadinya dapat berjalan dengan baik seketika menjadi berantakan. Jangan pernah ragu untuk menceritakan kondisimu kepada pihak profesional terpercaya agar kamu dapat menemukan solusi dari permasalahanmu. Kamu bisa berkonsultasi pada psikolog terpercaya, mentor profesional, atau konselor sebaya yang memang objektif serta tidak menghakimi permasalahanmu. Kurangi gengsi atau perasaan “tidak perlu” jika segala hal sudah terasa tidak berjalan seperti biasanya. Terkadang kesadaran untuk meminta bantuan justru membuatmu bisa lebih memahami diri untuk bertumbuh lebih hebat lagi.

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa hidup di dunia modern tidak pernah lepas dari permasalahan yang berakar dari dunia digital. Salah satunya digital burnout tadi yang pastinya pernah dialami siapapun. Kalau kamu sedang mengalami hal ini, semoga artikel ini dapat memberikan sedikit titik cerah untukmu. Mulai sekarang, belajarlah lebih bijak dalam penggunaan media sosial. Jangan sampai rasa ketergantungan membuatmu kelelahan bahkan kehilangan diri sendiri. 

Bagikan artikel ini