Dampak Doomscrolling pada Kesehatan Mental dan Finansial
Kesehatan Mental di Era Digital

Dampak Doomscrolling pada Kesehatan Mental dan Finansial

Yuan Adelintang Kurniadita14 kali dilihat

Tidak ada yang salah dengan berselancar di media sosial, tapi tidak dengan doomscrolling. Kebiasaan terus menerus ingin mencari berita buruk ini berdampak pada kesehatan mental dan finansial.

Pernahkah kamu merasa sangat penasaran dengan sesuatu hingga terus menerus ingin menguliknya? Hal ini menandakan rasa ingin tahu yang tinggi. Pada dasarnya hal ini sangat positif karena bisa memperoleh informasi secara lengkap. Akan tetapi, hal ini menjadi negatif jika informasi yang dicari adalah hal-hal buruk, berbahaya, dan mencemaskan.

Di era digital, fasilitas internet dan media sosial memudahkan pencarian informasi, termasuk informasi negatif. Dengan demikian, tidak sedikit masyarakat yang melakukan doomscrolling. Istilah ini berasal dari dua kata dalam bahasa Inggris yaitu “doom” yang berarti “malapetaka, kehancuran, nasib buruk” dan “scrolling” yang berarti “aktivitas menggulir atau menggeser layar gadget”. Artinya, doomscrolling adalah tindakan terus menerus dalam mencari berita atau konten buruk dengan cara menggulirkan layar gadget, dalam hal ini adalah melalui media sosial.

Isu-isu yang beredar akan lebih mudah ditemukan di media sosial hanya dengan mengetikkan kata kunci (keyword). Penelusuran semakin dalam jika terus berlanjut ke konten berikutnya. Aktivitas scrolling semakin lama saat topik tersebut sedang booming atau tren. Seseorang yang ingin tahu akan membuka berbagai media sosial, seperti Instagram, TikTok, Facebook, Twitter, dll. Tanpa sadar, waktu 24 jam sehari akan lebih banyak dihabiskan untuk doomscrolling. Niat awal untuk mencari informasi akan berubah menjadi scrolling tak terkendali.

Perilaku doomscrolling tersebut lama-kelamaan membentuk kebiasaan. Bayangkan berapa banyak waktu yang akan dihabiskan untuk mencari dan membaca berita buruk. Kebiasaan negatif ini tentu berdampak pada kesehatan mental dan finansial.

Faktor Pendorong Doomscrolling

Mengapa seseorang rela menghabiskan waktunya untuk doomscrolling? Bukankah konten negatif akan mengganggu kenyamanan? Berdasarkan hasil penelitian Qolbi et al. (2026), faktor penyebab perilaku doomscrolling terdiri dari faktor internal yaitu bias kognitif dan kurangnya kontrol diri dan faktor eksternal yaitu algoritma digital di media sosial dan FoMO (Fear of Missing Out). Berkaitan dengan faktor pendorongnya, doomscrolling bukan kebiasaan scrolling biasa, melainkan kombinasi antara pembentukan bias kognitif dan takut ketinggalan berita.

Dilansir dari ciputra.ac.id, bias kognitif adalah kesalahan sistematis dalam berpikir yang terjadi saat otak memproses dan menafsirkan informasi di sekitar kita. Sederhananya adalah pola pikir instan yang diambil otak untuk mempercepat pengambilan keputusan. Akibatnya, penilaian menjadi tidak objektif dan tidak rasional. Faktor internal lainnya yang memicu doomscrolling adalah rendahnya kontrol diri. Kemampuan pengendalian diri yang rendah menjadikan seseorang tidak mampu menahan godaan atau faktor eksternal lainnya yang muncul.

Algoritma media sosial sebagai faktor eksternal punya pengaruh kuat terhadap doomscrolling (Qolbi et al., 2026). Atensi pengguna pada berita buruk diartikan oleh sistem bahwa pengguna tersebut tertarik, menyukai, dan antusias terhadap konten-konten serupa. Keterbacaan sistem ini direspon oleh algoritma media sosial untuk menyuplai lebih banyak konten negatif ke dalam lini masa (timeline). Pada akhirnya, konten negatif semakin bermunculan dengan mudahnya dan meningkatkan aktivitas doomscrolling.

FoMO adalah faktor eksternal lainnya yang mendorong seseorang semakin terjebak dalam kebiasaan doomscrolling. Rasa takut tertinggal dari informasi yang menurutnya menarik, secara otomatis membentuk rasa ingin tahu yang tinggi. Hal ini merupakan efek dari atensi yang tinggi pada konten negatif.

Dampak Doomscrolling pada Kesehatan Mental

Kesehatan mental (mental health) semakin menjadi perhatian seiring dengan maraknya kasus yang menyebabkan gangguan mental. Ironisnya, terlalu banyak mengonsumsi berita negatif juga berdampak pada kesehatan mental. Tingkat stres dan kecemasan semakin tinggi seiring dengan semakin banyaknya berita negatif yang dikonsumsi (Shabahang et al., 2024).

Lebih jauh lagi, paparan konten negatif dari doomscrolling berkaitan dengan existential anxiety yaitu kecemasan mendalam mengenai makna hidup, masa depan, dan ketidakpastian dunia. Menurut American Psychological Association, paparan berita negatif yang berlebihan akan memicu news related stress kelelahan mental.

Dampak Doomscrolling pada Kesehatan Finansial

Kebiasaan doomscrolling yang berpengaruh pada kesehatan mental juga berpengaruh pada kesehatan finansial. Kondisi finansial sangat dipengaruhi oleh berbagai keputusan finansial. Paparan konten negatif membuat seseorang merasa cemas dan kehilangan motivasi. Untuk meningkatkan semangat dan meredam kecemasannya, doom spendingmenjadi jalan keluar.

Doom spending adalah tindakan mengeluarkan uang secara spontan sebagai respon dari tekanan emosional. Ini adalah bentuk pelampiasan dan untuk membeli rasa puas setelah mengalami kepuasan dan ketidakpastian. Kegiatan belanja impulsif atau tidak terkontrol ini menjadi sinyal negatif dalam kestabilan finansial.

Saat tekanan emosional terus bertambah dan kontrol diri menurun, doom spending semakin meningkat. Di saat yang sama, bisa muncul keinginan untuk mengajukan utang atau memanfaatkan layanan pay later apabila keuangan sudah menipis. Defisit keuangan semakin besar, sehingga dapat disimpulkan kurangnya atensi dalam hal menabung dan berinvestasi.

Cara Mengatasi

Menyadari dampak buruk doomscrolling adalah titik dasar untuk mengatasi kebiasaan buruk tersebut. Langkah berikutnya adalah mulai mengubah kebiasaan doomscrolling menjadi mindfull scrolling, yaitu menggunakan media sosial untuk tujuan yang jelas dan memilih konten positif. Terapkan manajemen waktu yaitu memberikan waktu secukupnya untuk scrolling agar tidak terbawa arus.

Dilansir dari psikologi.ui.ac.id, pengalihan aktivitas scrolling dengan kegiatan positif akan sangat membantu mengatasi dampak buruknya. Lakukan hobi yang kamu punya, seperti membaca buku, menulis, olahraga, menyanyi, dll. Tentukan juga waktu bebas ponsel, misalnya saat makan, belajar, memasak, dll.

Pola pikir dan kondisi mental akan membaik dengan menerapkan berbagai cara di atas. Kondisi finansial juga membaik karena hadirnya keputusan finansial yang rasional. Perlu diingat, godaan di era digital sangat masif. Hal yang perlu dilakukan adalah tetap berpikir kritis dan konsisten dalam menjalani kehidupan yang tertata. Jangan terjebak dengan doomscrolling yang pelan tapi pasti menjerumuskan dalam ketidakpastian.

Bagikan artikel ini