FOMO membuat beberapa orang sibuk berlari untuk mengejar hal-hal yang bahkan tidak sesuai dengan tujuan hidupnya hanya karena takut ketinggalan. Jika ini diteruskan, maka dampaknya dapat semakin parah. Di sinilah peran konsep JOMO hadir untuk menenangkan.
“Si A keren banget ya umur 22 udah bisa beli rumah sendiri”
“Si B juga keren deh tiap minggu update story ke luar negeri terus”
“Si C enak banget ya udah financial freedom di usia muda”
“Si D pasti bahagia banget karena punya keluarga kecil yang harmonis”
“Aku when ya?”
Kalimat-kalimat di atas tanpa sadar pasti pernah muncul dalam batinmu sambil terus menggulir media sosial tanpa henti. Waktu sudah menunjukan pukul satu pagi sementara kamu masih terus sibuk melihat dan membandingkan diri dengan segala pencapaian orang lain di media sosialnya. Bukannya beristirahat dan meletakkan ponsel, kamu terus hanyut dalam banyak pikiran. Ditambah lagi, ketika ada sesuatu yang menarik bagimu, kamu langsung selalu ingin mengikutinya. Misalnya tren baru yang orang lain buat dengan pasangan, kamu pun ingin melakukannya. Barang-barang lucu yang dipamerkan orang lain di media sosialnya juga menarik perhatianmu untuk membelinya. Kegiatan orang lain yang bahkan tidak sesuai dengan tujuan hidupmu pun kamu ikuti juga. Tanpa sadar kamu tenggelam dan mengejar ritme hidup orang lain di media sosial. Mencoba banyak hal tanpa tahu alasannya, mengejar banyak hal tanpa tahu tujuannya. Pada akhirnya kamu lelah karena terus berlari menuju hal yang tidak kamu tahu. Hal ini kamu lakukan karena kamu takut ketinggalan, takut tidak melakukan hal yang dilakukan orang lain, takut orang menganggapmu kuno, dan tidak tahu tren yang sedang terjadi. Kamu pun terus memaksakan semuanya karena merasa bersalah jika ketinggalan, sampai akhirnya lelah sendiri.
Fenomena ini sering disebut Fear of Missing Out (FOMO), sebuah kekhawatiran jika tertinggal dari suatu informasi atau peristiwa tertentu, sehingga muncul perasaan untuk terus hadir dan mengikuti. Sejalan dengan penelitian dari World Journal of Critical Case, FOMO selalu diikuti oleh dua proses, yakni persepsi tentang ketinggalan dan diikuti oleh kebiasaan berulang-ulang untuk tetap mempertahankan koneksi sosial. FOMO ini dapat dipengaruhi oleh banyaknya pilihan yang ada di depan mata dan berbagai macam kehidupan orang lain yang sering dijadikan referensi. Sebenarnya hal ini tidaklah salah asalkan tetap pada batasan yang baik. Masalahnya beberapa orang melanggar batas ini sampai menyusahkan diri sendiri. Ciri-ciri orang FOMO biasanya dapat terlihat dari kebiasaan terus menerus membuka ponsel, media sosial selalu menjadi prioritas, suka membandingkan diri, gelisah jika tidak membuka internet, dan susah merasa fokus.
Sehubungan dengan banyaknya dampak negatif dari FOMO ini, muncul konsep lain yang disebut JOMO atau Joy of Missing Out, perasaan bebas dari kesibukan dan tekanan di media sosial. Berbeda dari FOMO yang menciptakan rasa takut dan gelisah, JOMO justru menciptakan rasa tenang saat tertinggal. Bukan karena tidak peduli atau anti sosial, tetapi karena memahami tujuan hidup sendiri dan pandai menyaring hal-hal tidak perlu. Orang yang mengaplikasikan JOMO ini biasanya akan membangun hubungan lebih dalam dengan orang-orang di dunia nyata serta fokus pada proses serta kehidupan di depan mata tanpa terdistraksi oleh notifikasi atau tren yang harus selalu diikuti. Kebahagiaan yang diperoleh saat merealisasikan konsep JOMO ini mahal harganya, tetapi selalu dapat dibentuk dengan beberapa cara sederhana di bawah ini.
Pertama, untuk memulai merealisasikan konsep JOMO, kamu perlu memahami lagi tujuan hidupmu, mimpi-mimpimu, dan hal-hal yang membuatmu bahagia di dunia nyata. Semakin dalam kamu memahami dirimu sendiri, semakin paham juga kamu menyaring hal-hal yang kamu butuhkan. Jika sesuatu yang ada di dunia digital tidak selaras dengan tujuan atau prinsip hidupmu, maka kamu tidak akan melakukannya karena sudah paham batasan sendiri. Mulai sekarang, perbanyaklah bertanya pada diri sendiri, menciptakan percakapan dengan sendiri tentang dunia yang ingin kamu ciptakan di dunia nyata. Dengan begitu, apapun yang terjadi di dunia digital tidak lagi mengganggu ketenanganmu.
Kedua, langkah paling realistis selanjutnya adalah dengan membatasi waktu penggunaan media sosial dan memblokir notifikasi beberapa aplikasi di jam fokusmu. Algoritma media sosial selalu dibuat untuk memberikan konten sesuai minatmu. Itulah mengapa sangat wajar sekali jika kamu betah berlama-lama di sana. Mulai sekarang coba batasi waktu bermain media sosial maksimal 2-3 jam sehari, akan lebih baik jika kurang dari angka tersebut. Selain itu selalu jadikan waktumu saat bermain media sosial cukup menjadi ajang mencari inspirasi, informasi, dan hiburan semata. Jangan menjadi ajang membandingkan hidup sendiri dengan postingan pencapaian orang lain. Lalu, jika notifikasi dari aplikasi yang sering memberikan distraksi mengganggumu, kamu juga bisa memblokir notifikasinya saat berada di jam fokus. Berikan waktu juga untuk diri sendiri bebas dari segala notifikasi agar lebih jelas untuk mendengar suara hati diri sendiri.
Ketiga, JOMO dapat dinilai berhasil jika kamu dapat menolak hal-hal yang tidak sesuai dengan prinsip atau tujuan hidupmu. Kamu berani bilang “tidak” saat beberapa orang mengajak untuk membeli barang yang sedang tren padahal kamu tidak butuh. Kamu berani bilang “tidak” saat ada penawaran untuk mengikuti kegiatan yang mencuri waktu produktifmu. Intinya, kamu berani untuk menolak hal-hal yang tidak sesuai kebutuhanmu tanpa rasa bersalah. Sejatinya, konsep JOMO selalu berfokus pada memahami batasan tanpa khawatir berlebihan. Siapapun bisa merealisasikan hal ini agar kebahagiaan dapat dirasakan tanpa harus mengikuti standar orang lain dan ketenangan dapat dirasakan karena kebebasan menjalani hidup tanpa distraksi berlebihan. Sudah siap terapkan JOMO mulai hari ini?
Bagikan artikel ini

