Berawal dari minta tolong berujung bikin dompet kosong?
Siapa sangka rasa iba dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan keuntungan pribadi di era modernisasi ini? Konten-konten emosional di media sosial yang terasa nyata ternyata juga bisa menjadi penipuan dan dapat dikomersialisasi. Apakah kamu pernah melihat konten-konten live streaming orang mandi lumpur, menyiram diri selama berjam-jam, bahkan sesederhana sebuah utas atau narasi tentang kisah penderitaan hidup? Saat pertama kali melihat mungkin kamu akan bertanya-tanya, merasa kasihan, dan tanpa sadar ketika mereka mulai meminta sumbangan, hati kecilmu langsung mengirim tanpa berpikir panjang. Satu tindakan ini membuat algoritmamu sering memberikan konten serupa dengan siklus perasaan yang terus berulang. Kamu terus menonton, berempati, dan membagikan uang kepada mereka karena kasihan.
Sebenarnya tidak ada yang salah berbagi kepada sesama. Apalagi kepada orang-orang yang membutuhkan bantuan, tetapi sedikit miris jika kebaikan orang lain dalam berbagi justru dimanfaatkan dan dikomersialisasi. Salah satunya dengan berbagai macam bentuk ngemis online yang beredar. Faktanya, terdapat orang-orang di balik layar yang mengatur drama sedemikian rupa untuk menarik empati penonton. Beberapa alasan mengapa fenomena ini terjadi tidak jauh dari tekanan ekonomi, platform yang mendukung, dan tingginya rasa empati tanpa verifikasi dari pengguna. Meskipun Bank Dunia sudah mengkategorikan Indonesia ke dalam negara upper-middle income. Namun, fakta tersebut tidak sepenuhnya membuat Indonesia lepas dari bayang-bayang ketidakpastian ekonomi. Apalagi, lapangan pekerjaan di Indonesia masih tergolong sempit, jumlah pengangguran yang masih tinggi, serta masih banyaknya penduduk berpenghasilan rendah. Situasi ini dapat menjadi salah satu faktor banyaknya kegiatan ngemis online apalagi untuk orang-orang yang mudah putus asa dalam mencari pekerjaan.
Teknologi pendukung yang semakin canggih pun seolah mendukung aksi mereka. Platform TikTok yang merupakan salah satu platform terbesar dengan layanan live streaming ini menjadi media langganan fenomena ngemis online. Banyaknya pengguna TikTok di Indonesia yang berjumlah lebih dari 108 juta pengguna semakin meningkatkan upaya mereka dalam menjebak lebih banyak orang. Pengguna media ini berasal dari berbagai latar belakang dan seringkali mereka memiliki rasa empati yang tinggi pada setiap konten. Konten-konten emosional yang menyentuh sering mendapatkan perhatian lebih dan mengundang rasa iba. Keadaan psikologis inilah yang dimanfaatkan para pengemis online untuk menipu mereka. Di balik fenomena yang mengancam kepercayaan ini, terdapat beberapa cara untuk menghindari fenomena penipuan ngemis online.
Cara pertama, lakukan verifikasi terlebih dahulu sebelum mempercayai sesuatu. Jangan karena rasa empati yang tinggi, kamu menjadi lebih mudah untuk memberikan hati bahkan jutaan rupiah pada orang asing. Dari setiap drama, cerita, video yang meminta bantuan, pastikan kebenarannya dulu agar uang tersalur dengan baik kepada orang-orang yang benar-benar membutuhkan. Verifikasi ini bisa kamu lakukan dengan mengetahui latar belakang akun, riwayat komentar, atau mungkin kejanggalan tertentu. Pastikan semuanya aman dari riwayat negatif agar bantuanmu tepat sasaran.
Cara kedua, perhatikan pola urgensi yang tidak wajar. Jika kamu bertemu dengan akun yang mendesak agar cepat memberikan bantuan berupa transfer uang, waspadai hal ini. Jangan buru-buru mengirim hanya karena terdesak dan merasa kasihan. Apalagi jika mereka memaksa untuk memintamu mengirim bantuan dengan nominal tertentu yang cenderung besar. Pastikan logikamu tetap bisa membedakan hal-hal janggal seperti ini di media sosial ya. Jangan sampai kebaikanmu dimanfaatkan dan tidak tepat sasaran.
Cara ketiga, ketika media sosial seringkali membuatmu ragu dan kamu masih tetap ingin berbagi, kamu bisa cari aman dengan langsung berdonasi di perusahaan resmi. Bisa juga di akun-akun resmi yang menyalurkan bantuan untuk yatim piatu, kaum dhuafa, korban bencana, survivor penyakit kronis, dan lain sebagainya. Periksa juga kredibilitas dan jejak rekaman mereka. Pastikan mereka juga memberikan transparansi dari setiap bantuan yang kamu berikan. Dengan begitu, kamu akan merasa jauh lebih tenang tanpa merasa kesal karena rasa empati dapat tersalurkan dengan baik. Kebaikanmu pun akan mengalir sesuai dengan jalurnya dan bermanfaat untuk lebih banyak orang yang memang membutuhkannya.
Tidak ada yang salah dengan berbagi, tidak ada yang salah juga dengan meminta bantuan. Namun, keduanya perlu diberikan batasan agar tidak saling disalahgunakan. Artikel ini tidak ingin membuatmu berhenti percaya atau berhenti berbagi kepada orang-orang yang meminta bantuan di media sosial. Artikel ini juga tidak membuatmu ragu untuk meminta bantuan jika membutuhkan. Artikel ini hanya ingin membuatmu lebih hati-hati dalam mengambil tindakan dan memberikan kepercayaan agar kamu tidak mudah terjebak dalam siklus penipuan. Apalagi untuk kamu orang-orang yang baik hati dan tinggi rasa empati. Let’s be kind and be aware at the same time!
Bagikan artikel ini

