Modus penipuan paket fiktif seringkali berhasil karena memanfaatkan kepercayaan pengguna melalui data asli dan kurir resmi. Namun, kamu tetap perlu melakukan verifikasi sebelum berujung rugi. Yuk baca dulu artikel ini!
Di sebuah pagi yang cerah, seorang kurir mengantarkan paket di depan pintu rumahmu. Padahal sebelumnya kamu tidak memesan apapun. Bahkan aplikasi belanja daring favoritmu sudah kamu hapus sejak lama. Namun, mengapa ada paket yang terkirim atas namamu dan kamu diminta membayar untuk itu? Dikarenakan sifat tidak enakan, kamu langsung membayar jumlah yang tertera kepada kurir. Lalu, kamu bergegas membukanya dan beranggapan “apa mungkin waktu itu aku salah pencet pesan ya?” atau “mungkin adikku yang kepencet pesan?”. Segala prasangka ada di pikiran sambil perlahan kamu membuka paket itu. Anehnya, besoknya ada paket lain yang datang dengan metode COD lagi. Kamu mulai meragukannya dan segera mencari di internet tentang hal ini.
Sebuah cerita di atas adalah gambaran dari fenomena paket fiktif yang pernah menyasar banyak korban. Salah satunya kisah dari Agus Harianto pada tahun 2025, seorang creator di TikTok tersebut membagikan pengalamannya saat menerima paket fiktif. Warga asal Jawa Timur tersebut mengaku bahwa kiriman paket fiktif ini dimulai sejak Juni 2025 dengan total senilai Rp20 juta. Selain itu terdapat cerita lain di Kota Bandung, seorang remaja 16 tahun juga pernah membayar paket COD atas nama ayahnya. Saat itu ayahnya tidak ada di rumah dan dia harus membayar sekitar Rp162.500 kepada kurir yang mengirim paket. Namun, ternyata ayahnya tidak pernah memesan apapun meski resi pada paket tertera dengan jelas identitas pribadi ayahnya.
Mungkin sekarang kamu bertanya-tanya “bagaimana hal ini dapat terjadi?” dan “bagaimana data pengirim dapat diketahui?”. Jawabannya tidak jauh-jauh dari kebocoran data pribadi. Kebocoran data ini dapat ditemukan melalui kolom komentar ulasan pengguna, pengisian google form atau kuisioner tertentu, atau bahkan dari sistem sendiri yang kurang aman. Adapun beberapa tahapan dari penipuan ini, yakni penipu mengumpulkan terlebih dahulu data-data korban yang dapat digunakan. Mulai dari nama lengkap, alamat, nomor telepon. Lalu, penipu membuat orderan palsu dengan data korban yang bisa melalui pembajakan akun marketplace atau kadang langsung ke ekspedisi dengan data pengiriman yang dimanipulasi. Setelah itu, paket akan diantar melalui kurir asli dan penerima diminta untuk memberikan uang karena sistemnya Cash on Delivery (COD). Mau tidak mau, penerima harus membayarnya, jika transaksi selesai, maka kurir akan langsung mengirimkan ke rekening pengirim/penjual yang berniat penipu. Di sini, kurir pun tidak mengetahui apa-apa terkait penipuan ini karena tugasnya hanya mengirim apa yang sudah ditugaskan. Mulusnya mekanisme penipuan ini membuat banyak orang terjebak. Akan tetapi, tetap ada beberapa cara untuk menghindarinya.
Cara pertama, pastikan bahwa kamu selalu cek riwayat pesanan sebelum menerima barang COD apapun itu. Bentengi diri dengan sikap tidak mudah percaya jika ada suatu hal yang janggal terjadi. Jangan buru-buru membayar hanya karena sifat tidak enakan jika tidak ingin berakhir dirugikan. Selalu pastikan juga untuk meminta orang rumah agar memberikan kabar jika terdapat paket atas namamu. Hal ini untuk mencegah agar mereka juga tidak buru-buru membayarnya atau menalanginya terlebih dahulu.
Cara kedua, cek dan verifikasi resi pengiriman serta manfaatkan hak untuk menolak jika itu tidak resmi. Seringkali penipu menggunakan resi pengiriman yang dimanipulasi sehingga membuat seseorang mudah percaya. Kamu dapat mengeceknya terlebih dahulu pada situs pelacakan resi. Selain itu jika memang diketahui bahwa resi tidak valid dan kamu memang dari awal tidak memesan apapun, maka langsung tolak paket secara halus kepada kurir. Jelaskan keadaan yang kamu alami, bukti-bukti yang mendukung seperti riwayat pesanan pada aplikasi, atau apapun itu agar kurir memahami situasimu.
Cara ketiga, rekam foto atau video sebelum menolak paket sebagai bukti yang dapat dibutuhkan jika suatu hari nanti kamu memerlukannya. Kamu juga bisa melaporkan kejadian ini ke pihak berwajib. Lalu, kalau misal kamu sudah terlanjur membayar, kamu bisa melaporkannya kepada OJK dengan menceritakan kronologi kejadian. Selain itu, berikan juga edukasi kepada orang-orang di sekitarmu atau warganet lewat media sosial tentang kejadian yang kamu alami. Hal ini berguna agar banyak orang lebih sadar tentang modus penipuan terbaru ini.
Seringkali yang membuat modus penipuan paket fiktif ini berhasil karena mengeksploitasi kepercayaan penerima. Kamu dibuat percaya dengan data diri yang benar, sistem pengiriman, bahkan pada kurir langgananmu sendiri. Mulai sekarang, biasakan lagi untuk melakukan verifikasi sebelum melanjutkan transaksi COD, apalagi jika kamu memang tidak memesan apapun. Akan jauh lebih aman lagi, kamu bisa lebih sering menggunakan sistem pembayaran digital yang sudah lunas sebelumnya. Jadi, jika ada paket COD yang datang kamu sudah langsung curiga karena kamu tidak pernah melakukan sistem pembayaran tersebut.
Bagikan artikel ini

