AI slop menjadi masalah yang hidup berdampingan dengan manusia dan tidak ada yang bisa menghindari ini. Lantas bagaimana kita sebagai manusia harus menghadapinya?
Di tengah maraknya penggunaan AI, konten media sosial sekarang mulai dibanjiri dengan karya-karya yang dihasilkan AI. Muncul banyak sekali gambar-gambar aneh, video-video yang tidak masuk akal, bahkan ada juga konten yang terlihat sangat asli padahal palsu. Penggunaan AI dalam konten tidak hanya digunakan sebagai hiburan saja, tetapi beberapa perusahaan atau pemilik bisnis tertentu ada yang memakai AI sepenuhnya untuk keperluan konten mereka. Keberadaan konten-konten yang tidak orisinil sangat mengganggu algoritma media sosial dan siapapun yang melihatnya. Lebih parahnya lagi, jika konten AI tersebut kontroversial seperti sempat viralnya foto Shrimp Jesus beberapa tahun lalu dan mengundang banyak pertentangan di media sosial.
Fenomena ramainya masalah ini disebut dengan AI slop. Dilansir dari New York Times, kata “slop” mengarah pada segala sesuatu yang buruk dan tidak diinginkan. Dalam konteks konten, AI slop berarti banyaknya jumlah konten atau informasi berkualitas rendah yang tersebar di internet. Dirangkum dari Reuter Institute AI slop ini dapat berupa foto, video, teks informasi, atau bahkan website. Sehubungan dengan maraknya AI slop ini, Merriam Webster menyebutkan bahwa kata “slop” menjadi Word of The Year pada tahun 2025. Kenyataan ini diperjelas lagi dengan konten AI yang mendominasi media sosial dalam angka sekitar 79% atau sejumlah 4,2 miliar gambar perbulan.
Banjirnya AI slop ini didasari dengan beberapa alasan yang menjadi akarnya. Kecepatan dan kemudahan menjadi alasan utama banyak orang memanfaatkan AI untuk membuat konten sepenuhnya. Orang-orang hanya perlu memberikan prompt sesuai keinginannya sendiri kepada mesin dan cukup menunggu selama beberapa menit bahkan beberapa detik. Hal ini sangat berbeda jika membuatnya secara manual, baik dibuat untuk individu maupun perusahaan. Sebagai individu, pastinya membutuhkan waktu yang sangat lama dalam menghasilkan satu konten gambar artistik karena harus memikirkan ide, membuat sketsa, dan memadukan warna. Pada perusahaan pun, proses pembuatan konten dalam bentuk apapun pasti selalu membutuhkan tim kreatif yang berisi banyak orang sesuai keahliannya.
Selain itu, yang lebih membuka ruang untuk tersebarnya banyak konten hasil AI tersebut, yakni algoritma media sosial itu sendiri. Sistem algoritma mengutamakan engagement tinggi daripada kualitas konten. Itulah mengapa, kuantitas sangat penting sehingga banyak orang berlomba untuk membuat konten AI sebanyak-banyaknya dan bahkan seaneh mungkin hanya untuk menaikkan engagement tersebut. Kenyataan ini diperparah lagi dengan ramainya konsep industrialisasi konten yang sudah menjadi model bisnis. Banyak orang yang ingin mencari keuntungan lewat konten, sehingga menjadikan AI sebagai jalan pintas untuk lebih cepat mencapai tujuan tanpa filterisasi tertentu.
Masalah ini tidak hanya menyumbang tumpukan konten mengganggu saja, tetapi berdampak lebih dalam dari sisi psikologis manusia. Melimpahnya konten AI ini mengundang krisis kepercayaan dari manusia terhadap apa yang dilihat di media sosial mereka. Ketika mayoritas konten yang tersebar dihasilkan AI, mesin akan sulit membedakannya. Orang yang setiap kali melihatnya pun terkadang beranggapan bahwa bisa jadi konten tersebut adalah hasil AI dari pola atau persepsi tertentu. Masalah ini membuat banyak orang kesulitan mencari informasi atau konten nyata hasil manusia. Semua konten rasanya kaku dan tidak bernyawa. Sedihnya lagi, hal ini tidak terjadi sekali, tetapi berkali-kali sehingga menciptakan kelelahan psikologis dalam memilah informasi. Apalagi, jika konten tersebut termasuk konten cepat dan tidak bermakna, maka brain rot bisa jadi masalah selanjutnya. Brain rot mengarah pada penurunan kemampuan berpikir kritis dan fungsi kognitif otak yang dapat memengaruhi produktivitas dan performa manusia.
Beberapa langkah bijak untuk menghadapi permasalahan AI slop ini adalah dengan menyiapkan mental terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk berselancar di media sosial. Sadari bahwa apapun yang disuguhkan di sana bersifat kejutan dan tidak selalu sesuai dengan ekspektasi. Selalu pastikan keadaanmu baik-baik saja sebelum memutuskan bermain media sosial atau mungkin kamu bisa memilih platform yang cocok untuk memahami kondisimu. Jangan sampai saat kamu sudah kelelahan dengan realita dan berniat mencari pelarian lewat media sosial, tetapi justru semakin lelah mental karena konten-konten di sana. Luangkan waktu juga untuk membaca buku fisik atau platform bacaan lainnya yang memang dibuat oleh manusia.
Kamu juga bisa menonton konten-konten long form yang dibawakan manusia secara langsung untuk memperdalam fokus dan membangun lagi kepercayaan terhadap media sosial di tengah arus AI. Belajar menyeimbangkan juga kegiatan mengonsumsi dengan kegiatan menciptakan sesuatu agar pemikiran kritis dan kreatif juga tetap terasah. Sebisa mungkin, lakukan juga aktivitas nyata selain bermian media sosial untuk menjaga kewarasan. Keberadaan AI tidak bisa dicegah, penyebaran konten AI pun tidak bisa dihentikan, tetapi sebagai manusia kamu selalu punya kontrol penuh dalam menghadapinya.
Bagikan artikel ini

