Jual beli dan persewaan LinkedIn jadi modus penipuan baru yang wajib kamu waspadai sebelum reputasimu hancur karena data yang disalahgunakan.
Baru-baru ini tersebar banyak sekali utas di Threads yang menawarkan orang lain untuk menyewakan akun LinkedIn mereka dengan bayaran beberapa ratus ribu rupaiah. Ada penawaran untuk meminjamkan akun selama beberapa hari, seminggu, sampai berbulan-bulan. Kata beberapa utas, akun LinkedIn tersebut akan digunakan untuk klien dari luar negeri yang entah apa maksud dan tujuannya. Bahkan ada yang memperjualbelikan akun LinkedIn dengan bayaran setengah juta. Mirisnya, banyak orang yang percaya dan langsung ingin bergabung. Namun, ada juga beberapa orang yang sudah sadar bahwa ini merupakan salah satu bentuk pelanggaran data privasi dan salah satu bentuk penipuan.
Bukti nyata tentang dampak dari jual beli dan persewaan akun LinkedIn ini pernah diceritakan oleh seorang creator di LinkedIn sendiri. Muhammad Hammaz yang merupakan warga negara asing membagikan pengalamannya saat mendapatkan penawaran penyewaan akun LinkedIn dengan bayaran 70 dolar. Namun, beliau menolaknya karena melanggar privasi akun, berisiko disalahgunakan, dan lain-lain. Dia pun juga menghimbau kepada audiens agar tidak menyewakan atau memperjualbelikan akun LinkedIn. Dari LinkedIn sendiri pun secara tegas melarang penggunanya untuk menyewakan atau memperjualbelikan akun LinkedIn pribadi.
Di balik fenomena ini, terdapat alasan mengapa hal ini bisa terjadi dan mengapa beberapa orang masih terjebak dalam penipuan ini. Kuatnya branding LinkedIn sebagai platform pencari pekerjaan dan networking profesional semakin mendorong kepercayaan orang untuk terlibat. Berdasarkan riset dari Nordlayer, terdapat 52% perusahaan dari Amerika pernah mengalami penipuan berbasis LinkedIn. Mirisnya, korban adalah perusahaan besar dengan keamanan siber berkualitas tinggi. Dikarenakan kepercayaan yang kuat pada platform, terkadang beberapa orang mengabaikan hal-hal janggal yang mengarah pada penipuan.
Selain karena kepercayaan kuat pada platform, maraknya orang yang percaya pada modus jual beli dan sewa akun LinkedIn ini juga terjadi karena minimnya pengetahuan tentang kegunaan akun saat diberikan ke orang lain. Tidak banyak yang tahu bahwa akun-akun mereka bisa saja digunakan untuk menyebarkan informasi palsu berkedok akun profesional resmi. Apalagi laporan resmi dari LinkedIn mendeteksi bahwa terdapat 83 juta akun palsu dan lebih dari 117 juta spam dan penipuan pada periode paruh tengah tahun 2025. Kenyataan ini menambah bukti bahwa besar kemungkinan jika suatu akun disewakan atau dibeli tentunya bisa menjadi bagian dari salah satu dari jutaan scam itu.
Terdapat beberapa kemungkinan yang terjadi saat akunmu disewakan, yakni akunmu digunakan untuk mengirimkan pesan-pesan ke target. Pada awalnya mungkin para oknum penipu ini bilang bahwa hanya ingin menggunakan akunmu sebagai keperluan promosi. Namun, sudah jelaskah promosi mereka? Apa produknya dan bagaimana mekanismenya? Lagipula jika ingin meminta promosi, mereka bisa meminta tolong padamu dalam bentuk endorsement berupa konten di LinkedIn dengan transparansi dari awal, bukan penyewaan akun yang entah untuk apa modus penipuannya. Jika ini terjadi, kamu sendiri yang akan menanggung kerugiannya. Reputasimu bisa saja terancam, akun bisa ditangguhkan, bahkan kamu juga bisa dilaporkan atas nama dirimu karena penipuan sebelumnya menggunakan namamu. Semua boomerang bisa saja datang secara bersamaan. Bahkan masa depan kariermu juga bisa dalam bahaya karena akun profesional milikmu sudah disalahgunakan meskipun bukan kamu yang melakukannya.
Mulai sekarang, lebih hati-hati lagi sebelum menerima tawaran sesuatu ya. Jangan hanya karena membutuhkan uang, kamu mengorbankan data pribadi yang kamu butuhkan di masa depan. Setelah membaca artikel ini pun tetap gunakan LinkedIn untuk kepentingan profesionalmu ya. Semoga artikel ini dapat membuatmu lebih bijak dan lebih bisa berpikir jernih saat mulai berurusan dengan dunia profesional. Khususnya data-data yang berpengaruh pada jejak digitalmu.
Bagikan artikel ini

