5 Skill Otentik yang Perlu Kamu Miliki agar Tidak Tergantikan AI
Pemberdayaan Generasi Muda

5 Skill Otentik yang Perlu Kamu Miliki agar Tidak Tergantikan AI

Adira Putri Aliffa2 views

AI mungkin lebih pintar, lebih hebat, lebih cepat, dan lebih beragam gunanya, tetapi tidak ada AI yang lebih “manusia” daripada manusia itu sendiri. Pelajari lima skill otentik ini sebelum keberadaanmu digantikan oleh AI!

Perkembangan AI yang semakin mahir dalam membantu bahkan menyelesaikan segala tugas serta aktivitas manusia menjadi kabar baik sekaligus kabar buruk. Kabar baiknya, hampir semua pekerjaan jadi lebih mudah dan beban tugas manusia menjadi lebih ringan. Namun, kabar buruknya, di tengah kemudahan itu muncul ancaman bahwa pekerjaan manusia bisa saja tergantikan oleh AI. Dilansir dari Yale Insight, laporan The Boston Consulting Group (BCG) menunjukkan bahwa sekitar 10% - 15% pekerjaan yang ada saat ini akan tereliminasi pada tahun 2031. Data lain diperoleh dari pendapat Dario Amodei sebagai CEO Anthropic yang berpendapat bahwa AI berpotensi menghapus beberapa white collar jobs dan mendorong peningkatan pengangguran dalam lima tahun ke depan. 

Tidak ada yang dapat menghindari kemajuan teknologi khususnya AI. Tidak ada pula hal lain yang dapat dilakukan selain mencari langkah preventif. Salah satu langkah preventif ini, yakni dengan mengasah kemampuan atau skill dari masing-masing individu. Skill yang jarang diajarkan pada kelas-kelas umum pun AI tidak memiliki kemampuan khusus untuk mengajarkan ini. Berikut adalah lima skill otentik yang perlu kamu miliki agar tidak mudah tergantikan AI. Baik itu dalam pekerjaan maupun dalam kepentingan sehari-hari sebagai manusia.

  • Kecerdasan emosional

AI tidak memiliki perasaan, emosi, dan empati dalam melakukan pekerjaannya. Mungkin AI memang bisa merespon keresahan atau segala ceritamu dengan baik, tetapi sebenarnya AI hanya melakukan hal tersebut berdasarkan data yang kamu berikan. Hal ini sejalan dengan penelitian di Journal of The Association of Physicians of Indian yang menunjukkan bahwa AI tidak bisa menjadi manusia secara emosional maupun spiritual karena perannya hanya menganalisis pola dari data dan meniru emosi dari pola tersebut atau instruksi tertentu. Itulah mengapa, respon AI biasanya cenderung bersifat validatif atau membenarkan perasaanmu. Dalam konteks pekerjaan, AI juga tidak bisa jika harus mengandalkan sisi emosional. Di sinilah peran manusia sangat penting sebagai makhluk berperasaan dan tinggi empati.

Jika kamu tidak ingin digantikan oleh AI, mulai latihlah diri untuk meningkatkan kecerdasan emosional. Kamu bisa membangunnya dari kebiasaan membaca lagi novel-novel yang membawamu hanyut dalam kehidupan tokohnya agar empatimu terasah. Kamu juga bisa mengobrol atau mendengarkan cerita lebih banyak dari orang-orang di sekitarmu. Perkuat lagi hubungan yang sehat dengan orang-orang tersayang daripada menghabiskan waktu untuk berbicara dengan AI. Selain itu, menulis jurnal sambil merefleksikan banyak hal juga dapat membuatmu lebih memahami sisi emosional diri sendiri. Kecerdasan emosional ini dapat meningkatkan sisi bijaksana dalam dirimu. Dengan begitu, karya-karya yang kamu ciptakan atau pekerjaan apapun yang kamu lakukan nanti akan terasa lebih menyentuh dibandingkan hasil kerja AI.

  • Pemikiran kritis

Sebagian besar orang menggunakan AI sebagai partner dalam brainstorming, berdiskusi, dan menciptakan sesuatu. Akan tetapi, output yang dihasilkan AI tidak selalu objektif dan akurat. Kenyataan ini sejalan dengan pendapat dari seorang penulis dan presenter terkemuka, Timandra Harkness. Dalam interview bersama Economist Education, Timandra mengatakan bahwa AI tidak bisa berpikir kritis karena hakikat dari berpikir kritis itu sendiri adalah sebuah proses yang berakar dari tujuan, keinginan, dan kebutuhan, sedangkan AI bahkan tidak memiliki tujuan apapun kecuali jika manusia memintanya. Di sinilah pemikiran kritis sebagai manusia sangat diperlukan agar dapat membedakan kredibilitas kemampuan manusia dan mesin. 

AI memang mahir dalam hal kecepatan menghasilkan output, tetapi manusia masih menjadi pemenang dalam memastikan output tersebut benar atau tidak. Untuk itu, jika tidak ingin digantikan oleh AI, jadilah unggul dalam berpikir kritis terhadap segala hal. Belajar mempertanyakan dan menganalisis sesuatu secara mendalam. Bahkan dari output yang dihasilkan AI, kamu pun bisa membantahnya dengan pemikiran kritis disertai pengetahuan murni sebagai manusia. Latihlah diri untuk berpikir lebih banyak lagi, lebih dalam lagi, dan lebih objektif lagi karena skill ini tidak akan pernah bisa digantikan mesin manapun.

  • Kreativitas dan orisinalitas

Kamu mungkin pernah meminta bantuan AI untuk mendukung kreativitasmu dalam menghasilkan sesuatu. Namun, apakah hasilnya benar-benar kreatif dan orisinil? Atau hanya hasil tiruan bahkan modifikasi dari hal-hal yang sudah ada? Dari hasil eksperimen dalam artikel Psychology Today, ketika seseorang semakin banyak bertanya dan meminta Claude (salah satu jenis AI) untuk menjadi lebih kreatif, ternyata hasil yang diberikan semakin dapat diprediksi dan cenderung biasa saja. Hal ini dapat terjadi karena proses kreatif manusia memang tidak dapat ditiru mesin karena manusia memiliki orisinalitas, rasa penasaran, meaning making yang dalam, imajinasi, navigasi budaya serta penghakiman yang etis. 

Jika kamu memiliki kreativitas dan orisinalitas tinggi, maka jangan takut akan digantikan AI. Kedua hal tersebut menjadi modal besar untuk menciptakan mahakarya luar biasa yang tidak bisa dilakukan AI atau manusia lainnya. Sebab, kamu hanya satu dan bisa jadi hanya kamulah orang yang memiliki pemikiran kreatif sehebat itu. Mulai sekarang, jangan terlalu bergantung pada AI sepenuhnya, gunakan pemikiran kreatifmu terlebih dahulu agar output yang dihasilkan menjadi lebih baik dan langka.

  • Pengambilan keputusan yang etis

Sejalan dengan tidak adanya pemikiran kritis, kreatif, dan emosional, AI dinilai tidak dapat mengambil keputusan secara etis. Hal ini sesuai dengan artikel dari Harvard Business School, yang menunjukkan bahwa AI tidak memiliki kemampuan untuk menjustifikasi secara etis karena tidak adanya kesadaran, pengalaman, dan tanggung jawab moral. AI hanya menuruti instruksi yang diberikan, tanpa menganalisis lebih dalam instruksi tersebut. 

Manusia sebagai makhluk yang bermoral memiliki tanggung jawab dalam menanggapi hal ini. Kemampuan untuk tidak mudah percaya pada output AI dan mengambil keputusan tidak hanya dari satu sumber saja sangat perlu ditingkatkan manusia. Dari skill ini, manusia akan lebih paham akar dari suatu keputusan dibuat, dampak dari keputusan tersebut, cara menjalankannya, dan segala aspek lainnya agar hasil keputusan yang dibuat benar-benar terbaik.

  • Membangun interaksi 

Skill ini menjadi skill yang benar-benar hanya dimiliki manusia. Sebagai mesin, AI sama sekali tidak memiliki kontrol dalam hal ini. AI mungkin dapat mengingatkan hari ulang tahun seseorang yang spesial di hidupmu, memberikan saran untuk mengirim pesan saat memulai interaksi, merekomendasikan hadiah tertentu agar seseorang menyukaimu. Akan tetapi, AI tidak bisa benar-benar hadir membantumu dalam interaksi nyata tersebut. Kamu selalu butuh konsistensi dalam membangun hubungan, kemampuan dalam membentuk kepercayaan, ikatan emosional, dan kemampuan mendengarkan lebih banyak. AI tidak bisa melakukan itu semua dan hanya kamu yang bisa.

Seperti yang tertulis dalam laman Danny Bobrow, AI tidak bisa membangun atau mempertahankan hubungan di dunia nyata karena tidak memiliki kepedulian, koneksi, dan kemampuan bawaan untuk berkolaborasi. Padahal sebenarnya kemampuan ini menjadi salah satu cara manusia bertahan hidup lebih lama. Itulah mengapa, kamu perlu mengasah kemampuan sosialmu dalam membangun interaksi. Sebab, sampai saat ini, kemampuan ini hanya dapat dilakukan manusia secara nyata. Perbanyaklah mengobrol dengan banyak manusia, pahami segala karakter dan sifatnya, tingkatkan apresiasimu kepada mereka, dan jadilah sosok manusia sebaik-baiknya.

Mesin boleh lebih canggih, AI boleh lebih hebat, dan manusia harus lebih luar biasa dari alat-alat yang hanya menjadi perangkat pendukungnya. Jika manusia terlalu bergantung pada AI dan tidak memiliki keinginan untuk mengasah skill yang membuatnya tidak tergantikan, maka siap-siap saja kehilangan pekerjaan dan tempat di dunia ini. Dari lima skill di atas, skill mana yang sudah kamu miliki dan skill mana yang ingin kamu asah lebih baik lagi?

Share this article