Pemasaran siber termasuk hasil digitalisasi yang mengubah mekanisme kegiatan ekonomi. Implementasi AI pada pemasaran siber tidak hanya memudahkan, namun punya sisi negatif yang menyesatkan.
Kemajuan teknologi dan kehadiran jaringan internet mengawali modernisasi zaman. Berbagai bidang kehidupan sangat terbantu dengan sistem dan peralatan canggih. Salah satunya adalah bidang pemasaran. Muncul pemasaran siber yang mempunyai jangkauan lebih luas dan mekanisme lebih praktis. Seluruh jaringan pemasaran diuntungkan dan konsumen sangat terbantu dalam memenuhi kebutuhan.
Apa bedanya pemasaran siber dan pemasaran digital yang sering kita dengar? Bukankah keduanya sama-sama dibekali teknologi? Keduanya mempunyai pengertian yang berbeda. Pemasaran siber, disebut juga internet marketing, merupakan segala bentuk kegiatan pemasaran yang menggunakan atau terhubung ke jaringan internet. Berbeda dengan pemasaran digital yang mencakup kegiatan pemasaran, baik terhubung ke internet, maupun tidak terhubung, asalkan semuanya menggunakan teknologi.
Contoh media pemasaran siber adalah website, media sosial, email, aplikasi chatting, dll. Contoh pemasaran digital adalah TV, radio, billboard, videotron, SMS (Short Message Service), dll. Dengan demikian, pemasaran siber mempunyai syarat harus terhubung ke jaringan internet. Semua media pemasaran ini memberikan informasi terkait produk kepada konsumen. Informasi ini dikemas dalam bentuk konten. Konten pemasaran dapat berupa tulisan, suara, atau video, sesuai dengan media pemasarannya.
Kehadiran AI (Artificial Intelligence) menjadi inovasi dalam melakukan kegiatan pemasaran, mulai dari penyajian konten hingga analisis konsumen. Prosesnya jadi lebih singkat, praktis, dan hemat biaya. Siapa sangka, di balik perannya ini, terdapat sisi negatif yang diam-diam menyesatkan dan mengancam keamanan konsumen.
Bentuk Pemasaran Siber Berbasis AI
Modern ini, AI semakin banyak digunakan dalam kegiatan pemasaran siber. Dalam pemasaran siber yang semuanya terhubung ke internet, tentu ketersediaan konten pemasaran sangat penting karena jangkauannya sangat luas. Untuk mengoptimalkannya, para pelaku bisnis melibatkan AI dalam pembuatan kontennya. Mulai dari pencarian ide, penyusunan konsep, hingga pembuatan konten. Konten dapat berbentuk tulisan, gambar, desain grafis, suara, hingga video.
Selain membantu memproduksi konten, AI berperan dalam pembuatan personalisasi konten dan pembuatan konten otomatis. Personalisasi konten ini meminta AI untuk menganalisis data perilaku konsumen untuk mengetahui preferensi konsumen sebagai bahan pembuatan konten yang unik dan sesuai dengan konsumen sasaran. Dalam hal pembuatan konten otomatis, AI membantu menulis naskah iklan, caption, kalimat untuk blasting, dan artikel untuk website.
Setelah pembuatan konten, peran AI berlanjut dalam penjadwalan konten dan otomatisasi kampanye. AI melakukan pelacakan kapan waktu terbaik untuk mengunggah konten atau mengirimkan email pemasaran berdasarkan waktu aktif audiens.
AI juga berperan dalam pelayanan konsumen, seperti chatbot dan VCA (Virtual Customer Assistant). AI dapat menjawab pertanyaan umum (FAQ) secara instan selama 24 jam penuh tanpa libur. Jika pertanyaan atau keluhan terlalu rumit, maka AI akan mengalihkan percakapan (handoff) secara langsung kepada agen manusia (customer service).
Bahkan, ada pelaku bisnis yang memberikan akses kepada AI untuk mempelajari database perusahaan untuk memberikan beberapa jawaban terkait status pesanan, melacak pengiriman, dan memberikan rekomendasi produk. Pekerjaan bidang pelayanan menjadi lebih praktis.
Dampak untuk Konsumen
Pemasaran siber menjadi ladang bagus bagi pelaku bisnis karena pola konsumsi saat ini mengarah pada kemudahan dan kecepatan. Akan tetapi, jangan lupakan bahwa konsumen perlu jaminan keamanan. Penggunaan AI dalam kegiatan pemasaran siber bukan tanpa risiko. Cukup banyak risiko yang mengintai, terlebih jika perusahaan menggunakannya tanpa kontrol.
Dampak pemasaran siber berbasis AI yang dapat dialami konsumen sangat beragam. Pertama, memperoleh konten tidak asli, di mana produk tidak sesuai aslinya karena dibuat atau dimodifikasi oleh AI. Hal ini karena tidak ada reviewdan kombinasi peran dari manusia. Mempercayakan produksi konten sepenuhnya ke teknologi AI tentu tidak tepat dan berpotensi menyesatkan.
Kedua, konsumen memperoleh informasi yang salah. Meskipun sudah diberi akses database perusahaan, terdapat kemungkinan AI tidak 100% benar. AI akan membaca data yang tersedia sesuai kemampuannya. Jika datanya tidak sistematis, tidak lengkap, sulit dipahami, maka AI akan salah mengartikan. Dampaknya seperti memperoleh testimoni terlalu bagus atau review produk yang berlebihan.
Ketiga, ancaman keamanan terhadap data pribadi. Semua data konsumen yang tercatat di perusahaan dan digunakan untuk chatbot, analisis pemasaran, rangkuman review, pemberian rekomendasi, dll., dapat berisiko pada serangan siberkarena kurangnya keamanan sistem. Phising dan malware dapat masuk melalui AI chatbot.
Tips Menghindari agar Tidak Terjebak
Kehati-hatian sudah harus dimulai dari sekarang. Konsumen berhak atas keamanan data dan transaksi. Pertama, waspada terhadap konten kombinasi AI, manipulated content, atau fabricated content (100% palsu). Kenali jenis konten tersebut dengan memperkaya literasi dan membaca dampak yang akan terjadi. Waspadai juga penyedia konten tersebut apakah pihak terpercaya atau tidak.
Kedua, jangan mudah tergiur dan segera lakukan analisis untuk setiap konten, terlebih jika konten iklan. Berikan waktu yang cukup untuk berpikir secara rasional agar tidak terjebak kesalahan informasi dan penipuan. Ketiga, jangan mudah percaya dengan review bintang lima atau ulasan yang sempurna. Baca berulang-ulang dan bandingkan dengan ulasan produk dari sumber lain.
Keempat, lindungi data pribadi. Caranya dengan membuat email khusus untuk mendaftar akun belanja atau akun berlangganan (membership). Tujuannya agar email utama yang lebih banyak megandung data pribadi dan terkoneksi dengan medsos lain tidak tertarget sebagai media pemasaran siber.
Berbagai kecanggihan teknologi mempunyai sisi risikonya, sehingga perlu kewaspadaan dari pengguna. Bersikap rasional dan kritis semakin dibutuhkan agar tidak terjebak pada sisi negatif pemasaran siber berbasis AI.
Share this article

